JAKARTA – Sementara jeda kompetisi biasanya membuat ritme tim melambat, ada yang justru memilih jalur berbeda. Persela Lamongan, misalnya. Alih-alih membuat gebrakan di ruang publik, mereka bekerja dalam senyap. Persiapan mereka pelan, tapi terukur. Di balik jeda panjang Pegadaian Championship musim 2025/2026, Laskar Joko Tingkir ini diam-diam menyusun ulang fondasinya.
Bagi mereka, masa jeda ini bukan cuma waktu untuk istirahat. Ini adalah fase krusial untuk menata ulang segalanya: fisik, taktik, dan mental. Ketika klub lain mungkin benar-benar menjauh dari lapangan, Persela justru memilih untuk tetap dekat dengan sepak bola.
Tim pelatih sudah mengingatkan para pemain. Jeda kompetisi itu ibarat pedang bermata dua. Ya, tubuh dapat pulih dari kelelahan bertanding. Namun begitu, kondisi fisik juga bisa anjlok kalau tidak dijaga dengan disiplin.
Pesan untuk skuad pun sederhana tapi tegas: tetaplah disiplin.
Pola makan jadi perhatian utama. Asupan nutrisi harus dijaga agar tubuh tetap prima. Menu bergizi seimbang dianggap fondasi dasar untuk mempertahankan stamina. Di level sepak bola profesional, detail seperti ini bukan hal sepele. Tubuh pemain adalah aset utama klub. Performa di lapangan akan langsung tergerus jika kondisi fisik menurun. Makanya, tim pelatih terus menekankan keseimbangan antara latihan, nutrisi, dan istirahat.
Pola tidur juga diawasi dengan serius. Istirahat yang cukup dipercaya membantu pemulihan sekaligus menjaga kebugaran. Dalam sepak bola modern, manajemen energi tubuh sering dianggap sama pentingnya dengan latihan teknik atau strategi.
Selama jeda, para pemain tetap menjalani latihan mandiri. Intensitasnya memang tak setinggi latihan tim, tapi cukup untuk menjaga otot dan stamina tidak kehilangan ritme. Harapannya, saat kompetisi bergulir lagi, mereka bisa langsung turun ke lapangan tanpa harus mulai dari nol.
Tapi, masa jeda ini tidak hanya dimanfaatkan oleh pemain. Di ruang pelatih, evaluasi berjalan lebih dalam.
Tim kepelatihan memakai waktu ini untuk meninjau ulang performa Persela sepanjang putaran sebelumnya. Beberapa aspek permainan masih menjadi catatan yang harus dibenahi jika klub ingin bertahan di papan atas klasemen.
Analisis pertandingan, diskusi taktik, hingga membaca ulang pola permainan lawan masuk dalam agenda evaluasi. Tujuannya satu: memastikan tim kembali dengan wajah yang lebih siap.
Bagi Persela, musim ini bukan cuma tentang menjalani kompetisi. Ada target lebih besar yang dikejar.
Artikel Terkait
Manchester United Siapkan Lima Nama Calon Pengganti Michael Carrick
Pelatih Persis Solo Beberkan Alasan Cuci Gudang: Mentalitas Pemain Jadi Masalah
Persis Solo Dihukum Larangan Penonton dan Denda Rp135 Juta Usai Kericuhan Suporter
Alwi Farhan Lolos ke Semifinal Swiss Open 2026, Tantangan Li Shi Feng Menanti