Duet Amiruddin-Syukur Menuai Pujian
Di sisi lain, Syamsuddin justru memberi apresiasi untuk penampakan duet pelatih Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur. Saat mereka memimpin di laga terakhir melawan Malut United, PSM berhasil meraih hasil imbang 3-3.
“Pertandingan terakhir itu, meski cuma dapat satu poin, permainannya lumayan bagus,” ucapnya.
Tapi coba bandingkan dengan laga-laga sebelumnya. Karakter pemainnya beda.
Dulu, semangat juang mereka tinggi. Berkorban untuk kemenangan dan harga diri tim. Sekarang? Rasanya berbeda. Ada kesan manja, kurang garang. Gaji dan bonus kerap jadi alasan.
“Mereka lupa kalau ini soal profesionalisme. Urusan pembayaran, saya yakin akan ditunaikan. Tapi attitude untuk berjuang, itu yang mulai hilang,” terang Syamsuddin dengan nada prihatin.
Jiwa ‘siri’ na pacce, identitas kebanggaan PSM yang dulu dijunjung tinggi, seakan menguap. Itulah yang paling disayangkannya. Semangat berkorban itu kini seperti sirna ditelan zaman.
Artikel Terkait
Iran Mundur dari Piala Dunia 2026, Buka Peluang bagi Indonesia
Sydney Sweeney Pamer Skill Sepak Bola di Stadion Sporting CP Usai Pertandingan
Herdman Panggil Elkan Baggott, Persaingan Bek Tengah Timnas Memanas
Persebaya Tersendat di Ramadan: Finishing Lemah dan Pertahanan Rapuh Jadi Masalah Utama