Laporta tentu tak tinggal diam. Dia membalas dengan nada yang tak kalah pedas.
“Ketika saya lihat apa yang dikatakan Xavi, saya langsung teringat Hansi Flick,” ujar Laporta.
“Memimpin Barcelona itu sulit. Harus ambil keputusan berat. Saya lakukan apa yang harus dilakukan. Dengan Xavi, saya lihat kami akan kalah. Dengan Flick, kami menang. Saya paham dia sakit hati. Tapi faktanya, dengan pemain yang sama, Flick menang.”
Soal Messi, versi Laporta berbeda jauh. Dia bercerita bahwa Jorge Messi sendiri yang datang ke rumahnya dan bilang bahwa tekanan di Barcelona terlalu besar. Keluarga Messi lebih memilih Miami.
Namun begitu, tuduhan Xavi tak berhenti di situ. Dia juga menyebut ada "tangan tak terlihat" yang memengaruhi Laporta: Alejandro Echevarria, mantan saudara ipar sang presiden.
“Presiden meyakinkan saya untuk tetap tinggal saat saya mau mundur Januari lalu. Dia bilang, ‘Saya tidak melihat tim tanpa Anda.’ Tapi akhirnya, dia singkirkan saya tanpa kejujuran, dipengaruhi oleh seseorang di atasnya: Alejandro Echevarría. Dialah yang sebenarnya menyingkirkan saya.”
Laporta menepis semua ini. Dia malah menuduh Victor Font memanfaatkan Xavi untuk kampanye hitam.
“Yang menyakitkan, dia mau saja dimanfaatkan. Untuk menyakiti saya, dia pakai orang dari lingkaran dalam saya sendiri. Di balik Xavi, saya tahu Victor Font sedang coba memanipulasi pemilihan ini.”
Begitulah. Dua legenda Barcelona kini saling serang di media. Satu sisi, ada Xavi yang merasa dikhianati dan ingin suaranya terdengar. Di sisi lain, ada Laporta yang bertahan dengan keputusannya, sambil bersiap untuk pertarungan politik terbesar di klub akhir pekan ini. Kebenaran mungkin ada di tengah. Tapi yang pasti, pertikaian ini meninggalkan luka yang dalam untuk semua pihak.
Artikel Terkait
Sponsor dan Basis Suporter Jadi Tulang Punggung Finansial Persib
Debut Imran Nahumarury Sukses, Semen Padang Kalahkan PSBS Biak 2-0
Persebaya Dipecundangi Borneo 1-5, Lini Depan Jadi Sorotan
Herdman Panggil Victor Dethan dan Bawa Kembali Baggott untuk FIFA Series 2026