SURABAYA Ribuan Bonek masih bersorak-sorai di Stadion Gelora Bung Tomo, Rabu malam itu. Suara mereka menggema, memenuhi udara Surabaya yang lembab, sementara para pemain Persebaya berjalan pelan ke ruang ganti. Di papan skor, angka 1-0 atas PSM Makassar terpampang jelas. Angka sederhana, tapi bobotnya jauh lebih berat dari sekadar tiga poin biasa.
Ini adalah napas baru. Sebuah kelegaan setelah performa tim yang naik-turun belakangan ini.
Tapi di tengah euforia itu, pelatih Bernardo Tavares justru terlihat dingin. Tak ada senyum lebar, apalagi perayaan berlebihan. Wajahnya tetap fokus, pikirannya sudah melayang ke pertandingan berikutnya: bentrok dengan Persib Bandung. Liga, rupanya, tak pernah memberi waktu untuk berpuas diri terlalu lama.
Pertandingan sendiri berjalan alot sejak menit pertama. Kedua tim saling mengawasi, bermain hati-hati, segan untuk membuka diri terlalu lebar. Bola bolak-balik di lini tengah, seolah menunggu sebuah percikan.
Dan percikan itu datang di menit ke-26.
Gali Freitas mendapatkan bola di tepi kotak penalti. Hanya dengan satu sentuhan untuk mengecoh bek lawan, ia langsung melepaskan tembakan placing yang keras. Bola melesat deras, menyusur rumput, dan membenam di sudut gawang yang tak terjangkau kiper Reza Arya.
Gol itu seperti menyulut bensin. Atmosfer tegang di Gelora Bung Tomo langsung meledak jadi gegap gempita. Bonek berdiri, berteriak, melepas semua ketegangan. Permainan Persebaya pun berubah; mereka menemukan ritme dan kepercayaan diri yang tadinya hilang.
Memang, dalam sepak bola, kadang satu momen individu saja sudah cukup. Malam itu, momen itu adalah milik Gali Freitas.
Uniknya, setelah unggul, Persebaya malah tak bermain gegabah. Mereka memilih untuk mengendalikan permainan dengan disiplin yang ketat. PSM berusaha merespons, menekan lewat sayap, terutama di babak kedua. Tapi upaya mereka mentah.
Lini belakang Persebaya tampil sangat solid.
Risto Mitrevski jadi batu penjuru, mematahkan setiap serangan sebelum jadi ancaman serius. Organisasi tim rapi sekali jarak antar pemain terjaga, transisi dari bertahan ke menyerang berjalan cepat. Mereka mungkin tidak mencetak gol lagi, tapi menunjukkan hal krusial: kemampuan mempertahankan keunggulan.
Beberapa peluang sebenarnya sempat tercipta. Francisco Rivera nyaris menggandakan skor, begitu pula Bruno Moreira dari sebuah serangan balik. Tapi akhirnya, hanya satu gol yang bertahan.
Kemenangan seperti ini sering disebut "ugly win". Tidak cantik, tapi amat sangat berharga.
Artikel Terkait
Bradl Ungkap Ambisi Marquez: Lampaui Rossi dan Rebut Gelar MotoGP ke-8
Latihan PSIS Memanas, Dua Pemain Asing Hampir Berkelahi Jelang Laga Krusial
Locatelli: Saya Hampir Menangis Usai Juventus Tersingkir dari Liga Champions
Real Madrid Usir Anggota Tribun yang Lakukan Salam Nazi di Bernabéu