Di sisi lain, Raymond, yang berusia 21 tahun, menyuarakan ambisi yang lebih gamblang. Meski menyadari ketatnya persaingan di panggung elite, ia tidak ragu menyatakan target tertinggi.
“Kalau dari saya sih ambisinya pasti ada untuk juara di sana,” tegas Raymond.
Namun, ambisi besar itu diimbangi dengan pendekatan yang realistis dan terukur. Keduanya sepakat bahwa kunci kesuksesan terletak pada kemampuan mengontrol ambisi dan fokus pada setiap proses.
“Cuma memang harus di kontrol lagi jadi ambisinya. Kita harus step by step,” lanjut Joaquin menegaskan strategi mereka.
Raymond pun menyambung dengan penekanan pada persiapan mendetail, terutama menyongsong jadwal padat. “Saya juga cuma pengen ngelakuin yang terbaik dulu Dari latihan balikin fisik, meningkatin fisik Apalagi besok juga tiga turnamen beruntun, Pasti nggak mudah,” jelasnya.
Ujian Beruntun di Tanah Eropa
All England 2026 hanyalah pembuka dari serangkaian ujian berat. Setelah itu, Raymond/Joaquin langsung akan terbang untuk mengikuti Swiss Open (10-15 Maret) dan Orleans Masters (17-22 Maret). Rangkaian tiga turnamen beruntun di Eropa ini tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga ketahanan fisik dan mental mereka di awal tahun 2026. Performa dalam trilogi turnamen ini akan menjadi tolok ukur penting bagi perkembangan pasangan muda berbakat ini.
Artikel Terkait
Italia Hadapi Bosnia di Zenica dalam Final Kualifikasi Piala Dunia 2026
Herdman Soroti Performa Cemerlang Calvin Verdonk di Tengah Kekalahan Timnas Indonesia
Pelatih Bulgaria Puji Level Timnas Indonesia Usai Kemenangan Tipis di Final FIFA Series
Nagelsmann Peringatkan Jerman Soal Disiplin Posisi Meski Taklukkan Ghana