Tapi, bagi federasi, jumlah saja tidak cukup.
“Rakernas ini fokus pada bagaimana memastikan kita punya atlet cadangan yang banyak, talenta baru, tapi sekaligus bagaimana supaya mereka bisa berprestasi. Jadi kita bicara kualitas, bukan cuma kuantitas,” jelas Arsjad.
Untuk mewujudkannya, kalender pembinaan sudah disusun rapi. Ada Kejurnas Junior di Kudus pertengahan tahun, pelatihan untuk pelatih dan wasit, serta serangkaian kejuaraan antarklub hingga akhir tahun. Semua dirancang berjenjang.
Di sisi lain, penguatan daya saing internasional jadi prioritas lain. PB Perpani menjadikan turnamen dunia sebagai tolok ukur. Pada 2026, atlet akan diuji di tiga seri Hyundai Archery World Cup: Shanghai, Antalya, dan Madrid. Ini persiapan yang berat, tapi perlu.
Strategi menyeluruh ini diamini oleh Sekretaris Jenderal PB Perpani, Irawadi Hanafi. Ia menegaskan, pembinaan harus melibatkan semua unsur, dari atlet hingga sistem pendukung.
“Target dari pemerintah adalah meningkatkan apa yang sudah kita dapat sebelumnya. Waktu itu kita dapat perunggu, mudah-mudahan sekarang bisa emas,” ucap Irawadi dengan nada optimis.
Roadmap yang terstruktur, ditambah kalender kompetisi yang padat, menjadi fondasi mereka. Asian Games 2026 bukan sekadar event. Itu adalah momentum bagi panahan Indonesia untuk membuktikan diri, bahwa dominasi regional bisa diterjemahkan menjadi prestasi gemilang di tingkat Asia. Perjalanan panjang menuju Nagoya telah dimulai.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Pembalap Indonesia Pertama Podium di MotoGP
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts dan Nevis dengan Selisih Nilai Pasar Pemain 50 Kali Lipat
Eredivisie Tegaskan Tak Akan Ulangi Pertandingan Meski Status Pemain Dipertanyakan
Kiandra Ramadhipa Siap Berlaga di FIM Moto3 Junior World Championship 2026