BANTEN – Sukses besar di SEA Games 2025 Thailand, di mana panahan Indonesia menyabet enam emas dan dua perunggu, membuat suasana di tubuh PB Perpani terasa berbeda. Mereka tak mau berpuas diri lama-lama. Target berikutnya sudah jelas: Asian Games 2026 di Nagoya, Jepang. Federasi ini langsung bergerak cepat, menyusun peta jalan komprehensif agar Merah Putih bisa bersaing ketat di kancah Asia.
“Agenda 2026 difokuskan pada kesiapan kompetitif internasional dan pencapaian puncak performa di Asian Games 2026 Nagoya,” tegas Ketua Umum PB Perpani, Arsjad Rasjid, dalam sebuah kesempatan.
Ia menambahkan, “Kami memperketat standar pembinaan, kompetisi, dan evaluasi kinerja di seluruh level. Intinya, menyatukan atlet, pelatih, dan ofisial dalam satu sistem kerja yang terukur dan konsisten.”
Pernyataan itu disampaikan dalam Rakernas yang digelar di Tangerang Selatan, Banten, awal Februari lalu. Momentum juara umum SEA Games, yang mengalahkan tuan rumah Thailand, dianggap sebagai modal berharga. Namun begitu, semua sadar, level persaingan di Asia jauh lebih berat.
Nah, kunci utamanya adalah regenerasi. Arsjad menekankan, konsistensi prestasi harus dibangun dari pembinaan yang berkelanjutan. Caranya? Dengan terus menggali bakat-bakat baru.
“Makanya tahun lalu kita menggelar Kejurnas untuk junior. Ini bagian dari upaya kita mendapatkan talenta-talenta baru lagi. Harapannya, pembinaan ini bisa dilaksanakan dengan baik,” terang Arsjad.
Angkanya cukup menggembirakan. Kejurnas Junior 2025 diikuti 870 atlet dari 29 Pengprov. Sementara di level senior, ada 310 atlet dari 22 Pengprov yang bertarung di Bali. Belum lagi Kejurnas Antarklub yang menjaring 1.360 atlet! Basis atlet nasional memang terlihat luas.
Tapi, bagi federasi, jumlah saja tidak cukup.
“Rakernas ini fokus pada bagaimana memastikan kita punya atlet cadangan yang banyak, talenta baru, tapi sekaligus bagaimana supaya mereka bisa berprestasi. Jadi kita bicara kualitas, bukan cuma kuantitas,” jelas Arsjad.
Untuk mewujudkannya, kalender pembinaan sudah disusun rapi. Ada Kejurnas Junior di Kudus pertengahan tahun, pelatihan untuk pelatih dan wasit, serta serangkaian kejuaraan antarklub hingga akhir tahun. Semua dirancang berjenjang.
Di sisi lain, penguatan daya saing internasional jadi prioritas lain. PB Perpani menjadikan turnamen dunia sebagai tolok ukur. Pada 2026, atlet akan diuji di tiga seri Hyundai Archery World Cup: Shanghai, Antalya, dan Madrid. Ini persiapan yang berat, tapi perlu.
Strategi menyeluruh ini diamini oleh Sekretaris Jenderal PB Perpani, Irawadi Hanafi. Ia menegaskan, pembinaan harus melibatkan semua unsur, dari atlet hingga sistem pendukung.
“Target dari pemerintah adalah meningkatkan apa yang sudah kita dapat sebelumnya. Waktu itu kita dapat perunggu, mudah-mudahan sekarang bisa emas,” ucap Irawadi dengan nada optimis.
Roadmap yang terstruktur, ditambah kalender kompetisi yang padat, menjadi fondasi mereka. Asian Games 2026 bukan sekadar event. Itu adalah momentum bagi panahan Indonesia untuk membuktikan diri, bahwa dominasi regional bisa diterjemahkan menjadi prestasi gemilang di tingkat Asia. Perjalanan panjang menuju Nagoya telah dimulai.
Artikel Terkait
Persebaya dan Persib Unggul dalam Konsistensi, Persija Tertinggal di Arus Utama Super League
Masa Depan Tonali di Newcastle Bergantung pada Kualifikasi Liga Champions
Posisi Thomas Frank di Tottenham Genting, Eddie Howe di Newcastle Tetap Aman
Layvin Kurzawa dan Rekrutan Baru Persib Siap Debut di ACL Two