Persebaya dan Persib Unggul dalam Konsistensi, Persija Tertinggal di Arus Utama Super League

- Senin, 09 Februari 2026 | 22:30 WIB
Persebaya dan Persib Unggul dalam Konsistensi, Persija Tertinggal di Arus Utama Super League

Di liga panjang, juara seringkali bukan yang paling gemilang. Tapi yang paling jarang tumbang.

Itulah realitas yang sedang terjadi di Super League musim ini. Dan kalau kita lihat statistiknya, ada dua tim yang benar-benar punya mental baja: Persebaya Surabaya dan Persib Bandung. Persija Jakarta? Rasanya belum sampai di sana.

Kekalahan 0-2 dari Arema FC di SUGBK Minggu lalu jadi buktinya. Dua gol Gabriel Silva di menit-menit akhir bukan cuma soal angka. Itu menunjukkan Persija masih mudah goyah saat tekanan datang. Mereka kini tertahan di peringkat tiga, selisih lima poin dari Borneo FC dan enam dari Persib di puncak.

Secara matematis, jarak itu masih mungkin dikejar. Tapi secara mental, beban itu mulai terasa.

Persebaya dan Persib punya pola yang beda. Mereka berjalan senyap, tapi konsisten. Hingga pekan ke-20, kedua tim ini cuma kalah tiga kali. Sementara Persija sudah lima kali tumbang, Borneo empat. Di liga yang melelahkan, selisih satu-dua kekalahan itu bisa jadi penentu nasib.

Persebaya: Tim yang Dibangun dari Sistem

Grafik positif Persebaya nggak datang tiba-tiba. Sejak Bernardo Tavares memegang kendali, evolusi tim ini terlihat perlahan tapi pasti. Mereka sekarang di posisi lima dengan 35 poin, cuma selisih tipis dari zona empat besar. Yang lebih mengesankan: mereka sudah 13 laga tanpa kekalahan.

Yang bikin Persebaya berbahaya bukan cuma hasil. Tapi strukturnya.

Coba lihat. Saat Bruno Moreira absen, tim tetap jalan. Milos Raickovic nggak main? Ritme permainan nggak langsung kacau. Bahkan tanpa komposisi ideal, mereka bisa menang 3-1 di kandang Bali United. Itu namanya kemenangan sistemik, bukan cuma euforia sesaat.

Tavares berhasil membangun fleksibilitas. Tim nggak bergantung pada satu dua bintang. Dia manfaatkan kedalaman skuad, dan berani kasih ruang buat pemain muda seperti Dimas Wicaksono, Sadida Putra, dan Alfan Suaib tanpa takut keseimbangan buyar.

Di laga melawan Bali United, mereka tampil disiplin di bertahan, efektif saat transisi, dan tajam di depan gawang. Francisco Rivera jadi pengatur irama, Alfan Suaib muncul sebagai supersub yang efektif, lini belakang bermain tanpa drama berlebihan.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar