Harga minyak mentah Brent kembali meroket, menembus level psikologis USD100 per barel. Pada Kamis lalu, kontrak berjangkanya melonjak 5,3 persen ke posisi USD107,64. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate AS juga ikut naik 4,5 persen, berada di angka USD94,39. Situasi ini jelas memicu kekhawatiran baru. Guncangan di sektor energi berpotensi memicu tekanan inflasi yang lebih dalam, memaksa bank-bank sentral untuk mempertimbangkan langkah pengetatan moneter.
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) sendiri sudah mengeluarkan peringatan. Mereka bilang, jika harga energi terus melonjak akibat konflik yang berkepanjangan, kita bisa menyaksikan percepatan kenaikan harga dan revisi pertumbuhan ekonomi global. Ancaman itu nyata adanya.
Di tengah gejolak ini, muncul kabar dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam sebuah pertemuan kabinet, ia mengungkapkan apa yang disebutnya sebagai "hadiah" dari Iran. Menurut Trump, sebagai bentuk itikad baik dalam negosiasi, Teheran mengizinkan sepuluh kapal tanker minyak besar untuk melintas bebas melalui Selat Hormuz. Padahal, jalur strategis itu sempat nyaris tertutup total selama berminggu-minggu karena ancaman serangan dari Iran.
"Kami sedang melakukan pembicaraan yang sangat substansial dengan orang-orang yang tepat di Iran," ujar Trump.
"Mereka bilang, untuk menunjukkan bahwa mereka serius, mereka akan memberikan delapan kapal minyak. Delapan kapal besar, isinya minyak semua. Itu dua hari lalu, dan katanya akan berlayar besok. Yang besoknya itu berarti tiga hari lalu," lanjutnya dengan gaya khasnya.
Ceritanya tak berhenti di situ. Trump menambahkan, pihak Iran kemudian meminta maaf atas suatu hal dan menawarkan dua kapal tambahan. "Akhirnya jadi sepuluh kapal," tuturnya.
Namun begitu, konteks dari "hadiah" ini tak bisa dilepaskan dari ketegangan militer yang baru saja terjadi. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel, Katz, mengumumkan bahwa militer mereka telah membunuh Alireza Tangsiri, komandan angkatan laut Garda Revolusi Iran, dalam sebuah serangan.
Katz dengan tegas mengklaim bahwa Tangsiri adalah otak di balik penanaman ranjau yang berkontribusi pada pemblokiran Selat Hormuz. Klaim ini tentu saja memperkeruh suasana.
Menanggapi hal itu, Trump malah bersikap blak-blakan. Ia menyebut bahwa Iran kini tak lagi memiliki "penebar ranjau". Yang lebih mengejutkan, ia meremehkan pentingnya selat tersebut bagi AS.
"Yang menakjubkan adalah, kita tidak membutuhkan Selat Hormuz. Sama sekali tidak! Kita punya minyak yang sangat banyak. Negara kita tidak terpengaruh oleh ini," kata Trump dengan nada percaya diri.
Pernyataan itu, meski terdengar menggembirakan bagi pasar domestik, justru menyisakan tanda tanya besar. Apakah pembicaraan substansial yang disebut-sebut itu benar-benar akan meredakan ketegangan, atau justru menjadi babak baru dari sebuah konflik yang sudah rumit? Hanya waktu yang bisa menjawab. Untuk sekarang, pasar tetap waspada menatap setiap pergerakan harga di layar monitor.
Artikel Terkait
Polisi Gowa Selidiki Kematian Mahasiswi Unhas yang Ditemukan Tewas di Area Parkir Kampus
Pimpinan Ponpes di Maros Diciduk di Bontang Usai Setahun Buron karena Cabuli Tiga Santriwati
12.000 Pelari Ramaikan Digiland Run 2026, Telkomsel Gaungkan Sport Tourism Jakarta
Fabio Quartararo Akui Merinding Lihat Alex Marquez Tergeletak Usai Kecelakaan Parah di MotoGP Catalunya