MAKASSAR Kekalahan PSM dari Persijap Jepara itu menyakitkan. Bukan cuma soal angka di papan skor, tapi lebih ke soal sebuah kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari. Dan parahnya, pelakunya adalah sosok yang diharapkan jadi penopang: Yuran Fernandes.
Dulu, kehadirannya di lini belakang bikin tenang. Sekarang? Sumber kecemasan. Perubahannya terasa begitu drastis.
Gol kedua Persijap di menit ke-61 itu contoh sempurna. Situasi yang sebenarnya terkendali tiba-tiba berantakan karena pilihan buruk Yuran. Daripada membuang bola, ia memutuskan untuk menahan dan mengontrolnya. Ada ragu, ada kelambanan. Wahyudi Hamisi yang gesit langsung merampas bola dan memberi umpan matang untuk Iker Guarrotxena. Gawang PSM pun bobol lagi.
Ini bukan sekadar salah teknik. Ini blunder, titik. Apalagi dilakukan oleh bek senior yang mengenakan ban kapten.
Kapten yang Kehilangan Insting
Sebagai pemimpin di lapangan, Yuran mestinya jadi yang paling paham kapan harus bermain aman. Saat tekanan datang, langkah paling masuk akal adalah membersihkan bola dari area berbahaya. Bukan coba-coba, apalagi berjudi.
Sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya.
Ia gagal membaca pergerakan Wahyudi. Duel kecil itu dimenangkan lawan dengan mudah, dan akibatnya langsung fatal. Gol. Poin melayang. Dan ini, percaya atau tidak, sudah jadi pola yang mengkhawatirkan.
Beberapa laga terakhir memperlihatkan hal serupa: antisipasi yang meleset, keputusan yang tertunda, dan konsentrasi yang buyar di detik-detik genting. Hampir selalu berakhir dengan gol lawan.
Dari Pilar Jadi Beban?
Ini yang bikin miris. Yuran dulu adalah simbol ketangguhan pertahanan Juku Eja. Duel udaranya solid, komandinya terasa, gesturnya memberi keyakinan.
Tapi sekarang, gestur itu seperti kehilangan makna. Di atas rumput, yang lebih sering terlihat justru kegugupan dan ketidakpastian.
PSM kebobolan seringkali bukan karena permainan lawan yang luar biasa, tapi lebih karena kesalahan internal yang diulang-ulang. Dan ketika kesalahan itu datang dari sang kapten, efeknya ganda. Mental tim langsung terpengaruh, organisasi pertahanan pun kacau balau.
Kekalahan dari Persijap ini adalah yang kelima secara beruntun. Dan dalam rentetan kelam itu, nama Yuran hampir selalu muncul dalam momen-momen krusial yang merugikan.
Waktunya Evaluasi, Tanpa Sentimen
Sepak bola level profesional itu kejam. Tidak ada jatah main abadi hanya karena jasa di masa lalu.
Pemain muda yang salah? Masih bisa dimaklumi. Pemain asing yang butuh adaptasi? Masih ada toleransi. Tapi kalau kapten tim terus-terusan melakukan blunder fatal? Itu sudah lain cerita. Harus ada pertanggungjawaban.
PSM sedang berjuang keras keluar dari lubang krisis. Dalam situasi seperti ini, beban terberat harus dikurangi, bukan justru dipikul terus.
Mungkin sudah waktunya Yuran tak lagi jadi pilihan utama. Bukan sebagai bentuk hukuman, tapi lebih sebagai keputusan taktis yang rasional untuk kebaikan tim.
Jika Tomas Trucha serius ingin membalikkan keadaan, pesannya harus tegas: tidak ada yang tidak bisa digantikan, termasuk kapten sekalipun.
Keputusan Berat Menanti
Yang dibutuhkan PSM sekarang adalah bek yang cool, disiplin, dan tidak suka mengambil risiko berlebihi di area pertahanan. Kalau Yuran sudah tidak bisa memenuhi kriteria itu lagi, maka pergeseran peran harus segera dilakukan.
Mempertahankan nama besar seorang pemain tidak akan menyelamatkan klasemen. Tapi menjaga gawang agar tak bolong, itulah yang paling penting.
Malam di Jepara adalah pengingat pahit. Yuran Fernandes, dalam kondisi saat ini, lebih banyak menimbulkan masalah daripada solusi.
Artikel Terkait
Indonesia Tertinggal 1-2 dari Thailand Usai Alwi Farhan Tumbang di Piala Thomas 2026
Veda Ega Pratama Bangkit dari P17 ke P6 di Moto3 Spanyol
John Herdman Panggil Thom Haye hingga Saddil Ramdani di TC Perdana Timnas, Target Juara Piala AFF 2026 Mulai Digarap
Real Madrid Siap Sambut Endrick, Arsenal Mulai Pantau Striker Muda Brasil