Kabar mengejutkan datang dari Presiden Donald Trump, Kamis malam lalu. Lewat akun Truth Social-nya, ia mengumumkan penundaan penghancuran pembangkit energi Iran. Serangan yang semula sudah di ambang pintu itu ditangguhkan selama sepuluh hari, hingga Senin depan pukul 20.00 waktu AS bagian Timur. Alasan utamanya? Permintaan dari pemerintah Iran sendiri.
“Pembicaraan sedang berlangsung dan berjalan dengan sangat baik,” tulis Trump dalam unggahannya. Kabar penundaan ini langsung menggoyang pasar. Indeks berjangka S&P 500 langsung melonjak 0,5 persen usai penutupan perdagangan. Di sisi lain, harga minyak justru terpantau melemah, seolah pasar menarik napas lega sejenak.
Padahal, suasana pagi harinya sama sekali berbeda. Trump dengan nada keras menyebut para negosiator Iran “sangat berbeda dan aneh.” Ia bahkan mengklaim Teheran-lah yang memohon pada AS untuk membuat kesepakatan, demi mengakhiri konflik Timur Tengah yang sudah berlarut hampir sebulan ini.
Menurutnya, Iran harus segera berusaha mencapai kata sepakat dengan Washington. Trump juga membenarkan klaim Gedung Putih bahwa kapasitas militer Iran sudah porak-poranda dihajar serangan gabungan AS dan Israel.
“Mereka sebaiknya segera serius, sebelum terlambat, karena begitu itu terjadi, TIDAK ADA JALAN KEMBALI, dan itu tidak akan menyenangkan!”
Begitu ancaman tegasnya, ditulis seluruhnya dengan huruf kapital untuk memberi penekanan.
Di tengah ketegangan ini, muncul laporan bahwa Iran sedang meninjau proposal perdamaian dari AS yang terdiri dari 15 poin. Kantor berita Tasnim, yang dekat dengan Garda Revolusi, melaporkan Teheran sudah memberikan tanggapan resmi terhadap rencana gencatan senjata tersebut. Tapi detailnya masih tertutup rapat.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, sebelumnya sudah memperingatkan dengan nada garang. Serangan udara lebih lanjut akan menghujani Iran jika mereka gagal mencapai kesepakatan.
“Presiden Trump tidak main-main. Beliau siap untuk melepaskan malapetaka,” ujar Leavitt.
Namun begitu, sikap Iran sendiri tampak berbelit. Mereka sempat memberi sinyal tak berniat bernegosiasi langsung dengan AS. Teheran malah mengajukan rencana damai lima poinnya sendiri, yang isinya antara lain meminta ganti rugi dari Amerika dan sistem tol di Selat Hormuz jalur air paling vital untuk pasokan energi global.
Selat itu sendiri sampai sekarang masih tertutup efektif. Sudah berminggu-minggu jalur sempit yang dilintasi seperlima minyak dan gas dunia ini macet total, dikepung ancaman serangan Iran. Wajar saja harga minyak sempat melambung nyaris menyentuh 120 dolar AS per barel awal bulan ini. Meski kini sedikit mereda, harganya tetap jauh lebih tinggi ketimbang level sebelum perang pecah di akhir Februari.
Pasar saham pun ikut merasakan dampaknya, terjun bebas sepanjang hari Kamis. Semua terjadi sebelum pengumuman penundaan Trump di malam hari. Konflik ini seperti tak menunjukkan tanda-tanda akan reda.
Di tengah semua ini, datang kabar dari Israel. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengklaim militernya berhasil membunuh Alireza Tangsiri, komandan angkatan laut Garda Revolusi Iran, dalam sebuah serangan semalam. Tangsiri, kata Katz, adalah otak di balik penanaman ranjau yang membuat Selat Hormuz terblokir. Sebuah klaim yang, jika benar, tentu akan menambah panas suasana.
Lima hari ke depan jadi penentu. Apakah gencatan senjata benar-benar terwujud, atau malapetaka yang dijanjikan Karoline Leavitt benar-benar turun.
Artikel Terkait
Tijjani Reijnders, Gelandang Manchester City, Ucapkan Selamat atas Hat-trick Gelar Persib Bandung
Empat Klub Berebut Tiket Liga Champions di Laga Pamungkas Serie A
Peneliti BRIN Raih Gelar Doktor di Usia 62 Tahun dari ITB
Pakar: Sistem Keamanan Perbankan RI Paling Kuat, Nasabah Diminta Waspadai Kebocoran Data Pihak Ketiga