Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, sebelumnya sudah memperingatkan dengan nada garang. Serangan udara lebih lanjut akan menghujani Iran jika mereka gagal mencapai kesepakatan.
“Presiden Trump tidak main-main. Beliau siap untuk melepaskan malapetaka,” ujar Leavitt.
Namun begitu, sikap Iran sendiri tampak berbelit. Mereka sempat memberi sinyal tak berniat bernegosiasi langsung dengan AS. Teheran malah mengajukan rencana damai lima poinnya sendiri, yang isinya antara lain meminta ganti rugi dari Amerika dan sistem tol di Selat Hormuz jalur air paling vital untuk pasokan energi global.
Selat itu sendiri sampai sekarang masih tertutup efektif. Sudah berminggu-minggu jalur sempit yang dilintasi seperlima minyak dan gas dunia ini macet total, dikepung ancaman serangan Iran. Wajar saja harga minyak sempat melambung nyaris menyentuh 120 dolar AS per barel awal bulan ini. Meski kini sedikit mereda, harganya tetap jauh lebih tinggi ketimbang level sebelum perang pecah di akhir Februari.
Pasar saham pun ikut merasakan dampaknya, terjun bebas sepanjang hari Kamis. Semua terjadi sebelum pengumuman penundaan Trump di malam hari. Konflik ini seperti tak menunjukkan tanda-tanda akan reda.
Di tengah semua ini, datang kabar dari Israel. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengklaim militernya berhasil membunuh Alireza Tangsiri, komandan angkatan laut Garda Revolusi Iran, dalam sebuah serangan semalam. Tangsiri, kata Katz, adalah otak di balik penanaman ranjau yang membuat Selat Hormuz terblokir. Sebuah klaim yang, jika benar, tentu akan menambah panas suasana.
Lima hari ke depan jadi penentu. Apakah gencatan senjata benar-benar terwujud, atau malapetaka yang dijanjikan Karoline Leavitt benar-benar turun.
Artikel Terkait
Harga Bahan Pokok Naik Jelang Akhir Pekan, Beras dan Bawang Merah Melonjak
PM Anwar Umumkan Kapal Malaysia Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Herdman Soroti Mentalitas dan Kualitas Baggott sebagai Alasan Pemanggilan ke Timnas
Kelompok Houthi Siap Serang AS dan Israel di Jalur Vital Laut Merah