Kelompok Houthi Siap Serang AS dan Israel di Jalur Vital Laut Merah

- Jumat, 27 Maret 2026 | 10:50 WIB
Kelompok Houthi Siap Serang AS dan Israel di Jalur Vital Laut Merah

Ancaman dari kelompok Houthi di Yaman kembali menggema. Kali ini, mereka menyatakan kesiapan untuk melancarkan serangan terhadap Amerika Serikat dan Israel di perairan Laut Merah. Pernyataan ini tentu mengkhawatirkan, mengingat track record kelompok yang dekat dengan Iran ini dalam mengacaukan lalu lintas pelayaran internasional.

Menurut sejumlah saksi, aksi-aksi mereka sebelumnya sempat bikin kacau perdagangan global, terutama saat konflik Gaza memanas. Nah, situasi ini berpotensi memperburuk krisis minyak dan ekonomi dunia yang sudah terimbas perang di Timur Tengah.

Seorang pejabat Houthi yang enggan disebut namanya mengonfirmasi hal itu kepada Reuters, Jumat lalu.

"Kami siap menyerang jalur maritim penting itu lagi sebagai bentuk solidaritas dengan Teheran,"

Ucapnya. Kalau ancaman ini benar-benar diwujudkan, maka Selat Bab al-Mandab di lepas pantai Yaman bisa jadi sasaran empet. Titik itu sangat vital, menjadi gerbang lalu lintas kapal menuju dan dari Terusan Suez.

Di sisi lain, Iran sendiri sudah lebih dulu mengambil langkah tegas. Sejak perang pecah akhir bulan lalu, mereka secara efektif menutup Selat Hormuz di Teluk Persia. Penutupan ini jelas memukul ekspor hidrokarbon negara-negara Arab di kawasan itu.

Pejabat Houthi itu terlihat sangat percaya diri. Ia menegaskan kesiapan militernya.

"Kami sepenuhnya siap secara militer dengan semua opsi. Adapun hal yang berkaitan dengan penentuan waktu yang tepat, itu diserahkan kepada pimpinan,"

Katanya lagi. Ia bahkan memuji kinerja Iran di medan pertempuran, menyebut mereka "mengalahkan musuh setiap hari".

Beberapa pengamat dan diplomat yang memantau perkembangan ini punya analisis sendiri. Mereka menduga kelompok Houthi sedang menunggu momen yang pas untuk benar-benar terjun ke konflik. Tujuannya jelas: memberikan tekanan maksimal. Peluangnya bisa muncul jika ada peralihan ekspor minyak ke Laut Merah menyusul penutupan Selat Hormuz.

Bayangkan saja, Selat Bab al-Mandab ini cuma selebar 29 kilometer di titik tersempitnya. Sangat sempit. Lalu lintas kapal besar pun mau tidak mau terpaksa melalui dua jalur yang sudah ditentukan sangat rentan untuk diintervensi. Situasinya memang makin runyam.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar