Cuaca di Harbin, China, awal Januari itu menusuk tulang. Tapi bagi I Nyoman Sungada dan tiga rekannya, dingin yang menggigit hingga minus 14 derajat Celsius justru jadi panggung untuk mengharumkan nama Indonesia. Mereka baru saja pulang membawa kemenangan dari kompetisi patung es internasional di sana.
Ketika diminta bercerita, pria 64 tahun asal Bali ini justru membuka dengan sebuah pesan. Sebuah pesan yang ia sampaikan untuk memompa semangat dirinya dan 50 anggota Himpunan Seniman Pecatu (HSP) sebelum berangkat.
"Seni itu luas. Jangan seperti katak dalam tempurung, kita harus berani melihat dunia biar wawasan terbuka. Belajar, terus belajar," ujar Sungada, Kamis (15/1).
Motivasinya itu ternyata tak sia-sia. Perjuangan panjang mereka selama hampir 30 jam di Sun Island, Harbin, akhirnya berbuah manis. Patung es bertema Dewi Dhawantari yang mereka ukir dengan susah payah berhasil menyabet juara III di 28th Harbin International Snow Sculpture.
Hadiahnya sekitar Rp 45 juta. Tapi bagi Sungada, nominal itu bukanlah tujuan utama. Baginya, ini lebih soal pengabdian dan tanggung jawab. Ia ingin seniman-seniman muda punya keberanian dan bisa menimba ilmu langsung dari pertemuan dengan para pemahat dari berbagai negara.
"Kalau dibandingin, biaya keluar ya jauh lebih besar dari hadiahnya. Tapi ya gak apa-apa. Ini pengalaman yang tak ternilai buat anak-anak muda kita. Mereka bisa lihat langsung gimana teknik seniman Thailand, Jepang, dan lainnya. Anggota kami biasanya juga bergiliran yang ikut kompetisi," katanya.
Ini bukan kali pertama Sungada dan HSP menorehkan prestasi. Sejak 2013, mereka sudah ikut sekitar 15 kompetisi serupa di China dan Jepang, dengan torehan juara III dan V.
Inspirasi Dadakan di Pantai Batu Beliq
Kompetisi tahun ini diikuti 13 negara dengan total 25 tim dan 100 seniman. Setiap tim diberi balok es raksasa setinggi 4 meter untuk dikreasikan sesuka hati. Nah, di sinilah tantangannya. Sungada yang biasa mengukir kayu sempat bingung mencari ide.
Inspirasi itu datang begitu saja, tujuh hari sebelum keberangkatan. Saat ia pergi ke Pantai Batu Beliq untuk mencari pencerahan, matanya tertumbuk pada salah satu karyanya yang sudah ada di sana: patung Dewi Dhawantari. Ia pun memutuskan untuk menciptakan ulang dewi kesuburan dan keseimbangan alam itu dalam balok es.
Pilihannya ini bukan tanpa risiko. Patung Dewi Dhawantari terkenal rumit. Ada detail tangan yang memegang daun, guci, bunga teratai, cakra, sampai kotak lontar bayi. Semua harus tampak sempurna.
"Tangannya itu detail banget, jari-jarinya, aksesorinya banyak. Ditambah ada awan yang menyelimuti. Kerja teknisnya berat dan butuh fokus penuh," sambungnya.
Agar tak melenceng, mereka membuat miniatur patung dari stirofoam terlebih dahulu. Ukiran di es itu beda dengan di kayu. Kalau di kayu salah bisa diperbaiki, di es? Hampir mustahil. Sedikit tersenggol saja, bentuknya bisa berantakan.
"Beda jauh. Kalau kayu kan keras, medianya juga kecil, bisa kita putar-putar. Kalau balok salju ini diam di tempat, kuat sih, tapi bagian-bagian kecilnya rapuh. Tanpa miniatur, pasti sudah melenceng dari konsep," jelas Sungada.
Latihan Ekstrem di Dalam Freezer
Sungada mungkin sudah agak terbiasa dengan cuaca ekstrem. Tapi tidak dengan beberapa seniman muda di timnya. Untuk itu, ia punya metode latihan yang unik, bahkan ekstrem: duduk berjam-jam dengan baju berlapis di dalam gudang freezer miliknya!
Tujuannya sederhana: melatih ketahanan fisik. Mereka juga mempersiapkan peralatan musim dingin, pelembab, dan logistik dengan matang. Kulit bisa terkelupas dan gatal-gatal kalau terlalu lama terpapar dingin sambil memahat.
Di hari-H, Sungada membuka kerja sendirian untuk membentuk pola utama. Baru di hari-hari berikutnya, tim bergabung menyempurnakan detail-detail rumit itu. Mereka harus terus menambah lapisan baju dan mengganti sarung tangan yang basah.
"Dinginnya itu luar biasa. Badan bisa kaku kalau tidak siap," kenangnya.
Mereka bahkan mengakali waktu makan. Sarapan dari hotel dibawa ke lokasi untuk dinikmati saat makan siang, demi menghemat waktu dan tenaga.
Kini, hasil kerja keras mereka akan bertahan hingga Mei 2026, menjadi bagian dari galeri wisata musim dingin di Sun Island. Sungada dengan bangga bercerita, banyak turis Indonesia yang datang dan terkesan.
"Mereka bilang, 'Wah, bangga ya orang Indonesia bisa bikin patung salju di China. Kita kan dari daerah panas, Pak'," ucap Sungada menirukan.
Dan di balik semua dinginnya es dan beratnya pahat, ada kebanggaan hangat yang mereka bawa pulang ke tanah air.
Artikel Terkait
Ghost in the Cell Dirilis di 86 Negara, Joko Anwar Angkat Horor Penjara dengan Kritik Sosial
Kisah di Balik Nama Unik Klinik Lacasino, Warisan dr. Farid Husain di Makassar
Dinas Peternakan Bone Perketat Pengawasan Hewan Kurban Jelang Idul Adha
Remaja 17 Tahun Ditahan Usai Bawa Kabur Pelajar Perempuan Selama Tiga Bulan