Iran Terbitkan Daftar Putih Negara yang Dijamin Aman Lewati Selat Hormuz

- Jumat, 27 Maret 2026 | 10:00 WIB
Iran Terbitkan Daftar Putih Negara yang Dijamin Aman Lewati Selat Hormuz

Di tengah ketegangan yang masih menyelimuti kawasan Timur Tengah, pemerintah Iran justru mengeluarkan semacam "daftar putih". Mereka menyebut ada sejumlah negara bersahabat yang kapalnya tetap dijamin aman saat melintasi Selat Hormuz.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ia menegaskan, meski situasinya panas, jalur pelayaran vital itu tidak serta-merta ditutup total. "Anda telah melihat di berita: China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India. Dua kapal mereka melewati selat ini beberapa malam yang lalu, dan beberapa negara lain, bahkan Bangladesh, saya yakin," ujar Araghchi, Jumat lalu.

Menurutnya, beberapa negara sudah melakukan koordinasi langsung dengan Tehran. Tujuannya jelas: memastikan kapal-kapal mereka bisa lewat tanpa insiden.

Nah, untuk negara-negara yang dianggap punya hubungan baik, atau karena pertimbangan khusus lainnya, Iran bersedia memberikan jaminan keamanan. Bahkan dengan pengawalan dari angkatan bersenjatanya.

"Untuk beberapa negara yang kami anggap bersahabat, atau dalam kasus di mana kami telah memutuskan untuk melakukannya karena alasan lain, angkatan bersenjata kami telah menyediakan jalur aman," kata Araghchi dalam wawancara dengan televisi pemerintah.

Ini jelas bukan sekadar basa-basi. Selat Hormuz adalah urat nadi energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia harus melewati selat sempit ini setiap harinya. Wajar kalau kondisinya jadi sorotan internasional, apalagi sejak konflik antara Iran dengan AS dan Israel memanas akhir Februari lalu.

Tapi, Iran membantah kabar dari media Barat yang menyebut selat itu ditutup sama sekali. Pemerintahnya bersikukuh, jalur itu tetap terbuka. Syaratnya? Negara tersebut harus berkomunikasi dengan mereka dan tidak terlibat dalam konflik.

Di sisi lain, sikap Tehran terhadap pihak lawan justru sangat keras. Tidak ada kompromi.

"Kita berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal musuh kita dan sekutu mereka untuk lewat," tegas Araghchi.

Maksudnya jelas: kapal-kapal yang terafiliasi dengan Amerika Serikat, Israel, dan beberapa negara Teluk yang dianggap ikut memanas-manasi situasi, jangan harap bisa melintas. Akses akan ditutup rapat-rapat untuk mereka.

Meski begitu, Araghchi memberi sinyal bahwa kerja sama dengan negara-negara bersahabat ini sifatnya jangka panjang. Bukan cuma saat perang.

"Negara-negara yang telah berbicara dengan kami dan berkoordinasi dengan kami, dan ini akan berlanjut di masa depan juga, bahkan setelah perang," tambahnya.

Jadi, skenarionya kini jelas. Di satu sisi, ada jaminan keamanan bagi sekutu. Di sisi lain, blokade ketat untuk musuh. Di selat yang jadi pusat denyut ekonomi dunia itu, politik kini benar-benar menentukan arah pelayaran.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar