Namun begitu, momentum itu tak bertahan lama. Setelah insiden itu, permainan kembali berjalan tersendat-sendat. Banyak umpan yang salah, alur jadi kacau. PSM tampak bingung mencari celah, sementara Semen Padang bermain sangat pragmatis.
Melihat situasi tak kunjung membaik, pelatih PSM akhirnya bertindak. Luka Cumic dimasukkan pada menit ke-75, menggantikan Dzaky Asraf. Harapannya jelas: penyerang anyar ini bisa memberi kejutan. Tapi harapan tinggal harapan. Hingga peluit panjang berbunyi, skor tak bergeser dari 0-0.
Bahkan, Semen Padang hampir saja jadi pahlawan di menit ke-80. Sundulan Fernandez nyaris membobol gawang, melayang tipis di sisi jala. Suasana stadion mendadak hening sejenak.
Begitu laga usai, skor kacamata itu pun tak berubah. Hasil ini menempatkan PSM di peringkat 13 dengan 20 poin. Di sisi lain, satu poin berharga membawa Semen Padang naik ke posisi 16 dengan 12 poin, meski masih terperosok di zona merah.
Bagi PSM, hasil imbang ini lebih dari sekadar angka. Ini alarm. Enam laga tanpa kemenangan menunjukkan ada yang tak beres, terutama di lini depan. Masalah produktivitas masih jadi momok yang belum terpecahkan. Sementara bagi Semen Padang, poin di markas PSM ini ibarat oksigen. Napas mereka untuk bertahan di kompetisi masih ada.
Artikel Terkait
Lutut Mateta Jadi Penghalang Terakhir Transfer ke Milan
PSM dan Semen Padang Saling Tahan, Klasemen Makin Pelik
Tomas Trucha Terancam Usai PSM Gagal Taklukkan Tim Papan Bawah
Arsenal Incar Striker Muda Hearts dengan Status Pinjaman