Ya, 1999 adalah tahun keemasannya. Puncaknya adalah saat dia melangkah ke final Kejuaraan Dunia BWF. Sayang, di partai puncak itu dia harus mengakui keunggulan pebulu tangkis China, Sun Ju, dengan skor 5-16 dan 13-15. Runner-up dunia itu tetaplah pencapaian tertinggi dalam karier profesionalnya.
“Saya ke Taiwan tahun 1994 dan 11 tahun tinggal di sana,”
kenang Fung Permadi dalam suatu kesempatan di GOR Kudus, 2019 lalu.
Setelah lebih dari satu dekade, pada pertengahan 2006, Permadi memutuskan pulang ke Indonesia. Dia dihubungi dan diajak kembali ke PB Djarum, klub yang dulu membesarkan namanya.
Hingga kini, pria itu masih setia melatih di sana. Tangan dinginnya telah melahirkan banyak pebulu tangkis andalan. Beberapa nama seperti Dionysius Hayom Rumbaka dan Shesar Hiren Rhustavito adalah hasil didikannya. Yang terbaru, ada Moh. Zaki Ubaidillah yang juga mulai menunjukkan taringnya. Dari seorang pemain yang mencari jalan lain, kini dia menjadi salah satu pilar penting dalam mencetak generasi penerus.
Artikel Terkait
Bagnaia Buka Peluang Tinggalkan Ducati Usai Musim Penuh Kesulitan
Pedro Acosta Pimpin Klasemen Usai Gebrakan di MotoGP Thailand 2026
Fabio Calonego Soroti Kondisi Lapangan JIS Sebagai Faktor Penghambat Performa Persija
PSIS Incar Uji Coba Kontra PSM Makassar untuk Jaga Ritme Jelang Laga Penting