Trotoar Benhil Mirip Arena Halang Rintang, Perbaikan Baru Dimulai 2026

- Senin, 22 Desember 2025 | 02:42 WIB
Trotoar Benhil Mirip Arena Halang Rintang, Perbaikan Baru Dimulai 2026

Kalau kamu lewat trotoar depan Pasar Benhil, hati-hati. Jalannya sempit, penuh tiang, dan dipenuhi rintangan kayu serta tali. Bukan tempat yang nyaman buat pejalan kaki. Kondisi inilah yang akhirnya memantik respons dari Dinas Bina Marga DKI Jakarta.

Menurut Siti Dinarwenny, Kepala Pusat Data dan Informasi dinas tersebut, penataan ulang trotoar di Jalan Bendungan Hilir memang sudah masuk dalam agenda. Rencananya, program perbaikan bertahap ini bakal dimulai pada 2026.

“Tahun 2026 Suku Dinas Bina Marga Kota Administrasi Jakarta Pusat telah memprogramkan penataan trotoar di Jalan Bendungan Hilir secara bertahap. Namun, jika ada kewajiban pengembang akan dikoordinasikan dengan unit kerja terkait untuk memonitoring kewajiban tersebut supaya diselesaikan,”

Hal ini disampaikannya Minggu lalu, menanggapi keluhan soal trotoar yang jauh dari kata ramah.

Di sisi lain, Siti menegaskan fungsi vital trotoar. Terutama di kawasan ramai seperti Benhil yang dekat dengan perkantoran, halte, dan stasiun MRT. Ruang untuk pejalan kaki ini, katanya, harus aman dan nyaman.

“Trotoar disediakan untuk pejalan kaki dan memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas masyarakat sehari-hari. Karena itu, kenyamanan dan keselamatan pejalan kaki menjadi perhatian kami,”

Lalu, soal permukaan yang rusak? Pemeliharaan rutin akan terus dilakukan berdasarkan kondisi di lapangan. Tapi masalahnya nggak cuma di situ.

Persoalan klasik seperti parkir liar dan palet kayu yang memenuhi badan trotoar, misalnya. Untuk hal-hal semacam ini, kewenangan penertiban ada di tangan Satpol PP dan Dinas Perhubungan. Begitu pula dengan tiang utilitas dan kabel yang berserakan. Penataannya mesti lewat koordinasi dengan instansi terkait, karena pengelolaannya bukan wewenang Bina Marga sepenuhnya.

“Proses penyesuaian dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kelancaran layanan,” jelas Siti.

Nah, kondisi di lapangan memang cukup parah. Pantauan di lokasi menunjukkan, trotoar itu seperti lorong obstacle course. Sekitar lima tiang berdiri di sepanjang jalur, dua di antaranya bahkan nongkrong tepat di tengah jalan. Sebuah banner panjang yang terpasang di salah satu tiang hampir menutup seluruh jalur.

Belum lagi ada cone parkir, kayu, dan tali rafia yang berserakan. Pejalan kaki terpaksa melangkah pelan, menghindar, atau nekat turun ke badan jalan.

Moko (30), yang kerap melintas di sana, merasakan betul kesulitannya. Usai berlari dari Benhil ke Kebon Sirih, ia kembali harus berjuang melewati rintangan itu.

“Ya ini kan mana udah sempit ya di atas, terus ada tiang, ada dibatasin ini. Jadi aksesnya udah cuma buat satu orang aja. Nyusahin pejalan kaki sih. Jadi mana yang di bawahnya buat parkiran mobil, mau ke seberang juga takut keserempet. Jadi meskipun dekat Sudirman, akses ke Benhilnya masih kurang diperhatiin,”

keluhnya.

Ke depan, Dinas Bina Marga berjanji terus melakukan evaluasi. Tujuannya satu: menjaga trotoar tetap menjadi ruang yang aman, khususnya di titik-titik ramai seperti Benhil. Tapi sementara itu, pejalan kaki masih harus bersabar dan ekstra waspada.

Komentar