PT Triputra Agro Persada (TAPG) menutup tahun 2025 dengan catatan yang cukup gemilang. Laba bersihnya melesat ke angka Rp3,84 triliun, atau naik 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja ini, tentu saja, tak lepas dari angin baik yang menerpa harga komoditas sawit.
Menurut laporan keuangan yang dirilis Senin malam (16/3/2026), pendapatan usaha perusahaan meroket 18 persen menjadi Rp11,4 triliun. Mayoritas kontribusi, sekitar 83 persen, datang dari penjualan CPO. Sementara itu, Palm Kernel (PK) dan Palm Kernel Oil (PKO) menyumbang 12 persen dan 5 persen.
Soal harga, kondisinya memang mendukung. Rata-rata harga jual CPO naik 8 persen jadi Rp14.220 per kilogram. Yang lebih dramatis, harga PK dan PKO masing-masing melonjak 52 persen dan 37 persen. Ini jelas jadi pendorong utama.
Tapi, cerita sukses TAPG bukan cuma soal harga yang lagi bagus. Di sisi lain, faktor produksi juga ikut bermain. Sebagian besar kebun mereka tepatnya 82,7 persen sedang berada di puncak produktivitas, yaitu usia 7 sampai 20 tahun. Fase ini kerap disebut sebagai masa emas bagi tanaman sawit.
“Tanaman yang sedang dalam fase menghasilkan optimal memang jadi tulang punggung,” begitu kira-kira analisis dari sejumlah pengamat. Hasilnya, produksi Tandan Buah Segar (TBS) di kebun inti naik 3 persen menjadi 3,04 juta ton. Bahkan, produksi di kebun plasma tumbuh lebih pesat, 17 persen, mencapai 384 ribu ton.
Efisiensi pabrik pun menunjukkan perbaikan. Oil Extraction Rate (OER) mereka naik tipis 0,2 poin menjadi 23,3 persen. Artinya, dari setiap ton buah yang diolah, hasil minyaknya sedikit lebih banyak.
Dari segi fasilitas, TAPG saat ini mengoperasikan 18 pabrik kelapa sawit (PKS) dengan total kapasitas terpasang hampir 1000 ton per jam. Rencananya, di tahun 2026 ini mereka akan menambah satu PKS baru dengan kapasitas yang lebih kecil, sekitar 30-45 ton per jam.
Kondisi keuangannya secara keseluruhan terlihat solid. Aset lancar membengkak 32 persen jadi Rp3,98 triliun, sementara total asetnya mencapai Rp14,70 triliun. Yang menarik, liabilitas justru turun 1 persen, didorong oleh penurunan utang jangka pendek yang cukup signifikan, 21 persen. Alhasil, ekuitas pemegang saham bertambah 4 persen menjadi Rp11,69 triliun.
Indikator penting lainnya, arus kas dari aktivitas operasi, juga menguat 6 persen menjadi Rp3,4 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa keuntungan yang dilaporkan bukan sekadar angka di atas kertas, tapi benar-benar menghasilkan uang tunai.
Secara garis besar, kombinasi antara harga yang menguntungkan dan produktivitas kebun yang terjaga berhasil membawa TAPG meraih tahun yang positif. Tantangan ke depan tentu adalah mempertahankan momentum ini di tengah fluktuasi harga komoditas yang kerap tak terduga.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020