SURABAYA Persebaya Surabaya mengirim pesan yang tak bisa diabaikan. Mereka belum selesai. Di pembuka putaran kedua Super League 2025/2026, Green Force menunjukkan taringnya dengan kemenangan meyakinkan 3-0 atas PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung, Minggu (25/1/2026). Tiga poin itu penting, tapi yang lebih penting adalah pernyataan yang dibawanya: kebangkitan.
Dalam narasi kebangkitan ini, dua nama mencuat: Malik Risaldi dan Rachmat Irianto. Mirip dengan peran vital Ramadhan Sananta dan Ananda Raehan di PSM, Persebaya sepertinya telah menemukan duo andalannya sendiri.
Gol terakhir Rachmat Irianto bukan sekadar pelengkap angka. Itu adalah pernyataan. Sebuah simbol dominasi dan kepercayaan diri yang sempat meredup. Gol solo run-nya menegaskan bahwa tim ini punya pemain dengan kualitas individu untuk memutus pertandingan sesuatu yang sering dipertanyakan sebelumnya.
Pertandingan sendiri berlangsung cepat sejak peluit awal. PSIM sempat mengancam lewat Jose Pedro dan Norberto Vidal, tapi ancaman itu lebih banyak berupa ide ketimbang eksekusi nyata. Di sisi lain, Persebaya tampak lebih tenang. Mereka bermain sabar, tidak terburu-buru.
Lini tengah mulai menemukan ritmenya. Malik Risaldi jadi pengganggu utama struktur bertahan lawan. Pergerakannya yang tak kenal lelah membuka ruang dan memberi napas bagi para penyerang.
Kebuntuan akhirnya pecah di menit ke-34. Paulo Domingos mendaratkan bola matang dari Bruno Moreira ke gawang PSIM. Gol itu seperti melepas rem. Wajah pertandingan berubah; Persebaya tampak lebih berani dan yakin.
Artikel Terkait
Persebaya Hancurkan PSIM 3-0 di Kandang Sultan Agung
Todoroski Diincar, Bek Kanan PSM Segera Terisi?
Manchester United Siap Perang Bidding untuk Rekrut Adam Wharton
Alwi Farhan Hancurkan Lawan, Ukir Sejarah di Istora Senayan