Memasuki gim kedua, situasi berubah drastis. Tekanan Malaysia begitu kuat, membuat Raymond/Joaquin seperti kehilangan ritme. Mereka tertinggal jauh 0-6. Upaya untuk keluar dari tekanan seolah mentok dihadang permainan Goh/Nur yang semakin klinis dan efektif. Interval kedua dibuka dengan defisit yang cukup besar, 4-11.
Selepas itu, momentum benar-benar tak kunjung datang. Pasangan Malaysia bermain sangat efisien, hampir tanpa cela. Di lain pihak, kesalahan demi kesalahan masih menghantui Raymond/Joaquin. Tapi di tengah ketertinggalan yang lebar, semangat mereka patut diacungi jempol. Gigih. Mereka terus bertahan bahkan saat tertinggal 6-20, dan memaksa lawan bekerja ekstra untuk mengunci kemenangan di angka 13-21.
Ya, gelar itu akhirnya pergi ke Malaysia. Namun, perjuangan Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin di final hari ini, dengan segala naik turunnya, tetap meninggalkan kesan yang dalam bagi penonton di Istora.
Artikel Terkait
Persib Buka Suara Soal Isu Investasi Rp1,5 Triliun dari Jerman
Persib Kejar Gelar, Persebaya dan PSM Berjuang di Jalur Berbeda Jelang Akhir Musim
Juventus Incar Emiliano Martinez, Kiper Aston Villa, untuk Perkuat Mistar Gawang
PSM Makassar Kembali Dihukum FIFA, Dilarang Transfer Tiga Periode