Ketika Jari Lebih Cepat Daripada Hati: Sindiran di Tengah Duka Aceh

- Senin, 15 Desember 2025 | 06:40 WIB
Ketika Jari Lebih Cepat Daripada Hati: Sindiran di Tengah Duka Aceh

✍🏻 Nur Fitriyah As’ad

Membaca komentar-komentar di media sosial belakangan ini, sungguh bikin geleng-geleng kepala. Masih saja ada yang tega menyindir, bahkan menertawakan, saudaranya sendiri yang sedang berduka karena bencana. Rasanya, empati itu barang langka sekali akhir-akhir ini.

Beberapa komentar yang saya temui, nadanya kira-kira begini:

"Aceh drama, lebay. Padahal yang terkena bencana ada 3 provinsi, tapi Aceh yang paling teriak-teriak, paling protes soal bantuan, pimpinannya nangis-nangis segala."

Saya jadi bertanya-tanya. Apa mereka ini kurang informasi, atau cuma punya kuota buat scroll medsos saja? Situasinya jelas-jelas berbeda.

Memang benar, ada tiga provinsi yang dilanda musibah: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Tapi kalau mau jujur, dampak terparah ada di Aceh. Lalu disusul Sumut. Sumbar punya dampak yang lebih terbatas bukan berarti tidak serius, tapi skalanya memang tak sebanding.

Di Aceh, ini bukan banjir biasa. Bencana menyebar di 18 kabupaten dan kota. Korban jiwa sudah mencapai ratusan. Bayangkan, pengungsinya saja lebih dari setengah juta orang. Jalan putus, jembatan ambruk, sekolah dan rumah sakit rusak parah. Bahkan ada daerah yang benar-benar terisolasi, sehingga bantuan susah masuk.

Ini sudah level krisis kemanusiaan. Bukan sekadar musibah tahunan.

Di Sumut, kondisinya juga berat. Longsor dan banjir merenggut nyawa dan menghancurkan rumah-rumah warga. Tapi, dampaknya lebih terlokalisir. Tidak seluas Aceh yang hampir seluruh provinsinya lumpuh. Penanganan di Sumut masih bisa lebih terkonsentrasi pada titik-titik tertentu.

Lain lagi dengan Sumbar. Wilayah ini juga kena hujan ekstrem, banjir, dan longsor. Tapi jumlah korban dan kerusakan infrastrukturnya jauh lebih sedikit. Wilayah terdampaknya tidak seluas dua provinsi tetangganya.

Jujur, saya tidak habis pikir. Bagaimana bisa ada orang yang tega mengolok-olok penderitaan orang lain? Inilah realitas pilu di era digital: ketika jari lebih cepat mengetik daripada hati merasa.

Kalau tak sanggup membantu, setidaknya jangan menambah beban. Coba bayangkan sejenak: bagaimana jika rumah yang tenggelam itu rumahmu? Jika harta yang hilang adalah jerih payahmu bertahun-tahun? Atau na’udzubillah jika yang hilang adalah orang-orang tercinta?

Pikirkan itu. Sebelum berkomentar.

(")

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar