Menurut Kevin Wijaya, CEO Kelma Indonesia, kerja sama ini lebih dari sekadar urusan jersey. "Ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang kami untuk konsisten meningkatkan standar performa sepak bola nasional," ujarnya.
Hartman sendiri menyambut baik kemitraan ini. Dia yakin seragam baru bisa memberi suntikan motivasi tersendiri bagi para pemain. Sementara Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, melihatnya sebagai pertanda baik. Kehadiran merek internasional seperti Kelma, katanya, menunjukkan nilai industri sepak bola kita mulai diakui dan daya saingnya meningkat di kancah global.
Lalu, bagaimana dengan pergerakan di level klub? Ternyata juga tak kalah seru. Persija Jakarta, misalnya, aktif di bursa transfer putaran kedua BRI Super League. Mereka mendatangkan Shane Patinama, bek naturalisasi yang juga andalan Timnas Indonesia.
Patinama dikontrak untuk 2,5 musim ke depan. Bek berusia 27 tahun ini punya gaya permainan modern; solid bertahan tapi juga tak segan menyokong serangan. Latar belakangnya cukup mentereng: pernah membela akademi Ajax dan Utrecht, lalu berkarier di Eropa sebelum akhirnya merambah Asia Tenggara lewat Buriram United.
Dengan 12 caps untuk Timnas sejak debut 2023, targetnya di Persija jelas. "Saya datang untuk membantu klub meraih gelar juara," tegas Patinama.
Kembali ke Hartman, kehadirannya jelas membawa angin segar. Sebuah optimisme baru bahwa proyek jangka panjang sepak bola Indonesia mungkin sedang menemukan arah yang tepat. Tantangannya besar, tapi ambisinya sudah terpampang nyata. Tinggal menunggu eksekusinya di lapangan.
Artikel Terkait
Ujian Nyata Persijap di Kandang Sendiri, PSM Makassar Datang dengan Ambisi Penuh
Kurzawa Datang, Ramos Tak Jadi: Persib Sudah Punya Bintang Eropa Baru
Alwi Farhan Sabet Final Indonesia Masters Meski Fisik Tak Prima
Persijap Jepara Hadapi PSM di Laga Perdana, Sementara Isu Transfer Kastaneer Menggantung