“Jadi ini adalah negara di mana sepakbola adalah sebuah agama, berkembang sangat, sangat cepat dengan sumber daya keuangan yang sangat, sangat, saya harus katakan, besar,” katanya lagi.
Di sisi lain, ambisi lain juga mengemuka: menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 2034 atau 2038. Rupanya, keinginan untuk hadir di pesta sepakbola terbesar itu diwujudkan dari dua sisi; sebagai peserta dan sebagai penyelenggara.
Kedatangan Bulgaria ke Indonesia dalam FIFA Series Maret 2026 nanti bukan cuma sekadar pertandingan. Bagi Dimitrov, ini kesempatan berharga untuk bertemu tim dari benua lain, belajar mentalitas berbeda, dan menjalin komunikasi. Hal-hal semacam itulah yang berharga dalam persiapan timnya.
Dia pun kembali bernostalgia. Masa-masa tiga tahunnya di Indonesia, dari 2003 sampai 2005, jelas meninggalkan kesan mendalam. Baik sebagai pemain Persipura dan Petrokimia, maupun sebagai asisten Ivan Kolev.
“Saya telah menghabiskan tiga tahun yang luar biasa,” kenangnya.
Dan satu hal yang tak pernah dia lupa: betapa fanatiknya suporter di sini. Sepakbola benar-benar seperti agama. Buktinya? Saat masih aktif bermain, latihan timnya saja bisa disaksikan langsung oleh lima ribu orang. Bayangkan. Itu baru latihan, bukan pertandingan resmi. Fenomena seperti inilah yang mungkin jadi bahan bakar utama ambisi besar Indonesia ke depannya.
Artikel Terkait
Mourinho dan Benfica Jadi Batu Penghalang Terakhir Madrid
Tendangan Kung-Fu yang Mengakhiri Karier: Kiper Raihan Dihukum Seumur Hidup
Persebaya Ganti Kulit, Dua Bek Inti Pamit dari Surabaya
Duel Saudara di Istora: Ganda Muda Tantang Senior di Indonesia Masters