Rumor transfer kembali mengitari nama Febri Hariyadi. Menjelang putaran kedua Super League 2025/2026, winger Persib Bandung itu tiba-tiba jadi buah bibir. Media sosial ramai membicarakan ketertarikan beberapa klub, dengan Semen Padang FC disebut sebagai peminat paling serius. Tapi, jangan buru-buru berkesimpulan. Ada satu nama lain yang muncul diam-diam: PSIS Semarang.
Semuanya berawal dari sebuah unggahan akun pemantau transfer @bocahbolaid. Akun itu menyebut Febri dikaitkan dengan Semen Padang. "Rumours!! Sempat dikaitkan dengan Persis Solo, winger milik Persib Bandung Febri Hariyadi kini dikaitkan dengan klub Super League lainnya, yakni Semen Padang FC!" tulisnya. Cukup satu postingan itu untuk memicu perdebatan panas di kalangan suporter. Bagaimanapun, Febri itu seperti darah daging Persib. Namanya sudah melekat erat.
Dan memang, bagi Maung Bandung, Febri bukan pemain biasa. Dia adalah produk lokal yang murni, tumbuh dan dibesarkan di lingkungan klub. Lahir di Jawa Barat 29 tahun silam, perjalanan bolanya dimulai dari Sekolah Sepak Bola UNI Bandung. Setelah lima tahun membentuk dasar permainannya, ia akhirnya masuk akademi Persib pada 2010. Itulah jalan yang membawanya ke tim utama.
Dari akademi, karakter permainannya terbentuk: cepat, agresif, dan tak segan menghadapi bek lawan satu lawan satu. Dia resmi naik ke skuad senior di tahun 2016 dengan kontrak empat tahun. Debut profesionalnya? Terjadi di ajang Indonesia Soccer Championship A, saat Persib ditaklukkan Sriwijaya FC 3-0 di Palembang. Kekalahan itu pahit, tapi malam itu menjadi gerbang Febri ke panggung sepak bola nasional.
Lambat laun, dia pun menjelma menjadi salah satu sayap paling eksplosif di Liga 1. Jejaknya juga merambah timnas, dari level U-19, U-23, hingga senior. Debut untuk timnas utama tercatat pada 2017 melawan Myanmar. Pada masa jayanya, Febri sering dilihat sebagai simbol harapan regenerasi pemain sayap Indonesia.
Angka-angkanya bicara. Sepanjang karier, ia sudah tampil dalam 165 pertandingan dan mencetak 20 gol. Lebih dari 10 ribu menit di lapangan hijau membuktikan betapa seringnya ia diandalkan. Nilai pasarnya bahkan pernah menyentuh puncak, yakni Rp 6,95 miliar di tahun 2019.
Tapi roda sepak bola terus berputar. Musim 2025/2026 ini terasa berat baginya. Kesempatan main jadi langka. Hingga putaran pertama usai, ia cuma turun tujuh kali dan menyumbang satu gol. Perannya menyusut, tersingkir oleh perubahan taktik dan persaingan internal yang ketat.
Artikel Terkait
Chelsa Siapkan Pintu Keluar untuk Enam Pemain Jelang Akhir Bursa
Sergio Ramos dan Gelombang Bobotoh: Mungkinkah Bandung Jadi Pelabuhan Terakhir?
PSM Makassar Bidik Gelandang Australia Blake Ricciuto Jelang Putaran Kedua
Kisruh Skuad Chelsea: Siapa yang Bertahan, Siapa yang Tergusur?