Kegagalan itu seperti menyedot seluruh energi Maroko. Momentum pun berpindah total ke Senegal. Di babak tambahan waktu, tim yang sempat emosional itu justru tampil lebih tenang dan terorganisir.
Pada menit ke-94, pukulan final datang. Pape Sarr melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti yang tak bisa dihalau kiper Maroko. Gol spektakuler itu memastikan trofi pergi ke Dakar, sekaligus memupus harapan tuan rumah yang sudah membayangkan pesta.
Brahim Diaz, yang sudah ditarik keluar di extra time, hanya bisa menyaksikan dari bangku cadangan. Air matanya tak terbendung. Bahkan saat menerima sepatu emas sebagai top skor turnamen dengan lima gol dari Presiden FIFA Gianni Infantino, raut wajahnya hanyalah kepedihan yang dalam. Trofi individu itu terasa hambar.
Pelatih Maroko, Walid Regragui, mengakui bahwa momen menunggu yang panjang sebelum penalti berdampak pada mental pemainnya.
Di sisi lain, Edouard Mendy enggan berbagi rahasia dibalik bisikannya kepada Diaz.
Legenda Nigeria, John Obi Mikel, turut bersimpati sekaligus menyayangkan keputusan Diaz. Menurutnya, satu momen itu merusak semua prestasi gemilang yang dibangun pemain muda itu sepanjang turnamen.
Artikel Terkait
Persib Siapkan Kejutan: Bek Eks PSG Kurzawa Didekati untuk Perkuat Maung Bandung
Persebaya Kehilangan Bek Senior, Persaingan di Lini Belakang Makin Sengit
De Jong Ledek Wasit: Sikapmu Seolah Makhluk Superior!
Bernardo Tavares Siapkan Bom Waktu untuk Skuat Asing Persebaya