PADANG Dunia sepak bola kita memang tak pernah sepi dari drama. Baru-baru ini, kursi panas pelatih kembali kosong. Dejan Antonic resmi diberhentikan dari posisi pelatih kepala Semen Padang FC. Keputusan ini, jujur saja, bukanlah kejutan besar. Rasanya seperti puncak gunung es dari tekanan yang sudah lama membayangi klub-klub yang berjuang di dasar klasemen.
Pengumuman resmi dari manajemen klub tersebar lewat media sosial pada Kamis lalu. Unggahan itu singkat, tapi sarat makna. Mereka mengucapkan terima kasih kepada pelatih asal Serbia tersebut.
“Thanks Coach Dejan Antonic. All the best, Coach! Keep doing great things.”
Kalimat itu mengakhiri kisah Dejan dengan Kabau Sirah sebuah kisah yang ternyata lebih pendek dari rencana awal. Pemicu utamanya jelas: hasil imbang tanpa gol melawan PSIM Yogyakarta di kandang sendiri, Stadion Haji Agus Salim. Padahal, dalam laga itu, Semen Padang menciptakan sejumlah peluang emas. Sayangnya, semuanya gagal berubah menjadi gol. Hasil itu rupanya jadi titik puncak kekecewaan manajemen.
Andre Rosiade, Penasihat klub, tak menyembunyikan perasaannya. Lewat akun pribadinya, ia tegas menyebut tim butuh perubahan, dan cepat.
Menurut Andre, pergantian pelatih adalah langkah yang diperlukan untuk membenahi performa tim yang masih terperosok di zona degradasi.
Statistiknya suram. Hingga pekan ke-24, mereka cuma mengumpulkan 17 poin. Posisi ke-17 klasemen, cuma selangkah di atas juru kunci. Ancaman degradasi terasa sangat nyata.
Dejan sendiri, usai laga kontra PSIM, terlihat frustrasi. Ia mengakui tim punya banyak peluang untuk menang. Tapi sepak bola kadang kejam; latihan penyelesaian akhir yang intens pun tak jamin bola masuk ke gawang lawan.
Ini jadi catatan kelam lagi dalam tren pemecatan pelatih di Super League musim ini. Batas antara sukses dan gagal memang tipis sekali. Tapi gelombang efeknya tak berhenti di Padang.
Di Makassar, misalnya, hawa panas mulai terasa. Tomas Trucha, pelatih PSM asal Ceko, kini juga berada di bawah terik sorotan. Saat direkrut, ekspektasi terhadapnya tinggi: membawa Pasukan Ramang kembali ke papan atas, minimal masuk lima besar.
Kenyataannya? Jauh dari harapan.
PSM malah tercecer di papan tengah bawah, tepatnya di posisi ke-13 dengan 23 poin. Jarak mereka dengan zona merah sangat tipis, cuma lima poin dari PSBS Biak. Situasinya jadi makin runyam melihat catatan mutakhir: tak menang dalam tujuh laga terakhir, dengan lima di antaranya adalah kekalahan beruntun.
Performanya di bawah Trucha memang belum menggembirakan. Dari 15 laga, cuma 14 poin yang berhasil dikumpulkan. Kemenangan cuma empat, imbang dua, sisanya sembilan kekalahan.
Dalam kondisi seperti ini, posisi pelatih selalu yang paling pertama jadi sasaran. Muhammad Nur Fajrin, Manajer PSM, mengaku evaluasi internal sedang berjalan. Mereka bahkan sudah berdiskusi intens selama dua hari terakhir. Tapi keputusan final belum diambil.
Masih ada satu ujian terakhir, satu kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Laga tandang melawan Malut United di Stadion Kie Raha, Ternate, Sabtu nanti, akan jadi penentu nasib Trucha. Pertandingan itu bukan cuma soal poin, tapi mungkin juga soal apakah ia masih punya masa depan di klub.
Sepak bola modern seringkali kejam. Momentum bisa lebih berarti dari rencana matang. Satu kemenangan bisa mengamankan kursi, satu kekalahan bisa mengakhiri segalanya. Nasib Dejan Antonic di Padang adalah bukti nyata.
Kini, di tengah hiruk-pikuk kompetisi, satu pertanyaan menggantung: apakah ini baru awal dari gelombang pemecatan pelatih lainnya di Liga Super?
Kita tunggu saja jawabannya. Sebab dalam dunia ini, ketika hasil tak kunjung datang, waktu adalah barang mewah yang tak dimiliki setiap pelatih.
Artikel Terkait
Pemain Kunci Timnas U-20 Dicoret Usai Lakukan Tendangan Kungfu ke Lawan
RUU Kewarganegaraan 2026 Usung Dwi Kewarganegaraan, Angin Segar bagi Timnas Indonesia
Guardiola: Kami Bukan Nomor Satu, Meski City Tekuk Arsenal 2-1
AC Milan Kembali ke Jalur Kemenangan, Geser ke Posisi Dua Serie A