Harga minyak mentah dunia kembali mengalami tekanan pada akhir pekan lalu, ditutup melemah untuk hari kedua berturut-turut. Pelemahan ini dipicu oleh meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah, serta penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat setelah data ketenagakerjaan Negeri Paman Sam melampaui ekspektasi analis.
Pada perdagangan Jumat, minyak mentah Brent ditutup turun 2,04 persen ke level 93,09 dolar AS per barel. Sehari sebelumnya, harga acuan internasional ini juga sudah terkoreksi sebesar 2,84 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus 2026 merosot 2,69 persen ke posisi 90,54 dolar AS per barel, memperpanjang penurunan setelah sebelumnya anjlok 3,1 persen.
Analis FXEmpire, Vladimir Zernov, menilai tekanan terhadap harga minyak berasal dari kombinasi dua faktor utama. Pertama, penguatan dolar AS yang membuat komoditas berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain. Kedua, meningkatnya keyakinan pasar bahwa Amerika Serikat dan Iran pada akhirnya akan mencapai sebuah kesepakatan yang dapat mengurangi risiko gangguan pasokan minyak global.
Dolar AS menguat setelah laporan Non-Farm Payrolls (NFP) menunjukkan perekonomian AS menambah 172.000 lapangan kerja pada Mei. Angka ini jauh di atas perkiraan analis yang hanya memproyeksikan penambahan 85.000 pekerjaan. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu yang lebih lama, sehingga mendorong apresiasi dolar.
Di sisi geopolitik, pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi antara Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan kedua negara telah memasuki tahap akhir, meskipun belum ada rincian lebih lanjut mengenai isi kesepakatan. Iran juga mengakui proses negosiasi masih berlangsung, namun belum menunjukkan kemajuan yang signifikan.
Meskipun konflik antara Israel dan Hizbullah masih berlanjut, intensitas pertempuran dilaporkan mulai berkurang. Kondisi ini membuat para pelaku pasar menilai bahwa risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah tidak sebesar yang sebelumnya dikhawatirkan. Kombinasi faktor fundamental dan geopolitik inilah yang kemudian menekan harga minyak sepanjang pekan lalu.
Secara teknikal, WTI saat ini tengah berupaya menembus area support di kisaran 91,00 hingga 91,50 dolar AS per barel. Jika tekanan jual berlanjut dan level tersebut ditembus secara meyakinkan, harga berpotensi turun menuju support berikutnya di kisaran 85,00 hingga 85,50 dolar AS per barel. Sebaliknya, untuk kembali membangun momentum kenaikan yang berkelanjutan, WTI perlu menembus area resistance di level 97,00 hingga 97,50 dolar AS per barel.
Sementara itu, Brent saat ini menghadapi support terdekat di area yang sama, yakni 91,00 hingga 91,50 dolar AS per barel. Apabila level tersebut gagal bertahan, harga Brent berpotensi melanjutkan koreksi menuju kisaran 86,00 hingga 86,50 dolar AS per barel. Level tersebut merupakan area terendah yang tercatat sejak April lalu.
Artikel Terkait
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Masuk Green Book Bappenas, Buka Akses Pendanaan Internasional Hingga Rp7,7 Triliun
MMIX Genjot Pabrik Popok Tercepat di Indonesia, Targetkan Produksi 1,8 Miliar Unit per Tahun
Telkom hingga Elnusa Gelar RUPST, Bahas Dividen hingga Buyback Saham Rp4 Triliun
Kapal Kontainer Anak Usaha Samudera Indonesia Tenggelam di Selat Singapura, Seluruh Kru Selamat