Kesehatan mental anak dan remaja di lingkungan pendidikan agama kini mendapat perhatian serius. Dalam sebuah rapat tingkat menteri di Jakarta, Kamis lalu, Menteri Agama Nasaruddin Umar secara khusus mendorong pesantren-pesantren besar untuk menyediakan psikolog. Tujuannya jelas: menangani isu kesehatan jiwa para santri dengan lebih baik.
Rapat yang digelar di Kantor Kemenko PMK itu membahas penguatan penanganan masalah kejiwaan pada kelompok usia muda. Menurut Nasaruddin, peran guru Bimbingan Konseling (BK) di madrasah dan pesantren memang krusial. Mereka berada di garda terdepan untuk mendeteksi perubahan perilaku atau tanda-tanda tak wajar pada peserta didik.
Namun begitu, ada batasannya.
“Guru BK punya peran strategis untuk mengenali perubahan pada anak,” ujar Nasaruddin.
“Tapi untuk masalah yang sifatnya klinis, ya harus ada sinergi dengan tenaga profesional. Seperti psikolog atau tenaga medis lainnya.”
Karena itulah, Kemenag mendesak pondok pesantren berkapasitas santri besar untuk melengkapi layanannya. Tak cuma psikolog, kehadiran dokter dan perawat juga dianggap penting agar penanganannya bisa komprehensif. Dari deteksi dini hingga intervensi yang tepat, semuanya bisa dilakukan di internal lembaga.
Artikel Terkait
Kapolda Riau Tawarkan Solusi Waste-to-Energy Atasi Darurat Sampah di TPA Muara Fajar
Korlantas dan Pemprov Bali Koordinasi Pengamanan Mudik Lebaran dan Nyepi 2026
Menteri Tito Desak Optimalkan Huntara dan Data Terpadu untuk Penanganan Pengungsi Sumatera
Politisi Apresiasi Hakim Batam yang Vonis 5 Tahun untuk ABK Kasus Sabu 2 Ton