Pelatihan Vokasional Kemensos Bangkitkan Kepercayaan Diri Difabel Pati Kini Hidup Mandiri dari Usaha Jahit

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 20:15 WIB
Pelatihan Vokasional Kemensos Bangkitkan Kepercayaan Diri Difabel Pati Kini Hidup Mandiri dari Usaha Jahit

Kepercayaan diri menjadi fondasi utama yang coba dibangun dalam program pelatihan kerja Kementerian Sosial bagi penyandang disabilitas. Seorang difabel asal Pati, Jawa Tengah, kini kembali bersemangat berkarya di bidang menjahit setelah mengikuti program tersebut.

Supriyono, penyandang disabilitas fisik akibat polio, awalnya merasa malu menjadi penjahit. Namun, kondisi itu kini berbalik seratus delapan puluh derajat. Ia mampu hidup mandiri, membiayai kebutuhan keluarga, hingga menyekolahkan anak-anaknya dari hasil jahitan.

Kesehariannya kini diisi dengan menerima berbagai pesanan, mulai dari permak pakaian hingga pembuatan seragam sekolah, Puskesmas, dan kebutuhan hajatan warga. Dalam satu pesanan, ia bisa mengerjakan seragam untuk 15 hingga 20 orang, yang sebagian besar merupakan pakaian pria.

"Awalnya saya malu kalau harus jadi penjahit. Dulu pikiran saya, kalau bisa jangan kerja jahit," ujar Supriyono dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/6/2026).

Takdir perlahan membawanya ke jalan yang tak pernah ia bayangkan. Pada 2010, ia mulai bekerja di sebuah usaha konveksi Wisnu Tailor di Kudus, Jawa Tengah. Di sana, ia mengenal lebih dekat dunia jahit-menjahit dan belajar dari para penjahit yang lebih berpengalaman. Keterampilannya pun tumbuh sedikit demi sedikit.

Meski demikian, keyakinan Supriyono belum sepenuhnya mantap. Ia sempat mencoba pekerjaan sebagai admin dan mengerjakan desain infografis menggunakan aplikasi AutoCAD selama sekitar satu tahun.

Berbagai pengalaman itu justru menyadarkannya bahwa keterampilan menjahit yang dimilikinya adalah aset paling berharga. Keputusan untuk membuka usaha sendiri pun mulai dimatangkan.

Dukungan dari Kementerian Sosial melalui Sentra Margo Laras Pati menjadi titik balik sekaligus penyemangat dan modal berharga dalam hidupnya. Sejak 2021, Supriyono tercatat sebagai penerima manfaat layanan rehabilitasi sosial dan mengikuti pelatihan vokasional menjahit selama enam bulan.

Pelatihan tersebut membantunya mengembangkan kemampuan sekaligus memperkuat keyakinan untuk menekuni usaha jahit secara mandiri. Dari situlah lahir usaha Kaxyon Tailor. Kini, ia mampu menerima pesanan permak dan pembuatan seragam hajatan, sekolah, hingga puskesmas dalam jumlah besar.

Supriyono mematok tarif bervariasi sesuai tingkat kesulitan pekerjaan. Untuk jasa pembuatan celana panjang, misalnya, ia mengenakan biaya sekitar Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per potong.

Kerja keras yang dijalani perlahan membuahkan hasil. Dari usaha jahitnya, Supriyono mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya. Sepeda motor roda tiga yang kini dimilikinya juga menjadi penunjang penting untuk aktivitas usahanya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar