Kekalahan PSM Picu Kerusuhan Suporter, Rombakan Besar Kepelatihan Menguat

- Kamis, 05 Maret 2026 | 17:30 WIB
Kekalahan PSM Picu Kerusuhan Suporter, Rombakan Besar Kepelatihan Menguat

Malam itu di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, lebih dari sekadar kekalahan. PSM Makassar tumbang 2-4 dari Persita Tangerang, dan angka di papan skor itu ibarat pemicu. Tekanan yang terpendam berbulan-bulan di dada Pasukan Ramang akhirnya meledak.

Suasana langsung mencekam. Ratusan suporter membanjiri lapangan, kemarahan dan kekecewaan bergemuruh. Mereka menuntut jawaban. Mereka berteriak minta perubahan. Tapi, di tengah keributan itu, satu sosok justru menghilang.

Pelatih kepala Tomas Trucha tak terlihat setelah laga usai. Ia langsung masuk ke ruang ganti dan tak kembali tidak untuk menenangkan suporter, tidak untuk menghadapi situasi. Kevakuannya di momen paling genting itu justru menambah keruh suasana.

“Mana tanggung jawabmu semua!”

Teriak seorang suporter dari tengah lapangan, nyaris tenggelam dalam riuh rendah amarah.

Yuran Fernandes, sang kapten, berusaha jadi penengah. Ia berdiri di depan massa, coba jelaskan situasi dan minta ketertiban. Tapi tanpa kehadiran pelatih, upayanya terasa setengah hati. Bahkan Savio Roberto sempat bolak-balik ke ruang ganti, konon memastikan apakah Trucha bersedia keluar. Ia kembali dengan isyarat yang kurang jelas: sang pelatih tak bisa tampil.

Penjelasan resmi kemudian datang dari Media Officer PSM, Sulaiman Abdul Karim. Katanya, Trucha absen karena alasan kesehatan. Tapi penjelasan itu malah memicu lebih banyak tanya. Publik tak sepenuhnya percaya.

Dan dari sinilah spekulasi mulai bertebaran.

Nama Tony Ho kembali mencuat. Bagi warga Makassar, dia bukan orang baru. Jejaknya panjang di PSM pernah jadi pemain, pelatih, sosok yang kerap diandalkan saat klub berada di persimpangan. Pengalamannya juga meluas ke klub-klub besar lain: Arema, Persela, Persebaya. Dengan rekam jejak itu, Tony Ho dianggap paham betul karakter sepak bola Indonesia, terutama kultur emosional sepak bola Makassar.

Jadi wajar saja ketika rumor pergantian pelatih menguat, namanya langsung disebut. Dia dilihat sebagai opsi paling realistis untuk menstabilkan tim dengan cepat.

Tapi ada juga skenario lain yang lebih rumit, semacam jalan tengah. Dalam skenario ini, Tomas Trucha tidak dipecat. Ia hanya bergeser peran menjadi direktur teknik. Posisi itu memungkinkannya tetap mengurusi sistem permainan, pembinaan pemain, dan rencana jangka panjang.

Sementara kursi pelatih kepala diserahkan ke Tony Ho.

Diharapkan, pengalaman Tony bisa memperbaiki komunikasi dengan pemain, mengembalikan disiplin, dan meredakan ketegangan dengan suporter. Namun struktur kepelatihan ini konon belum selesai.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar