Tangis Brahim Diaz membanjiri Stadion Rabat. Momen itu mengubur mimpi Maroko meraih Piala Afrika setelah setengah abad penantian. Di final yang ricuh melawan Senegal, eksekusi penalti Panenka yang gagal dari gelandang Real Madrid itu menjadi titik balik yang pahit. Laga yang digelar Senin dini hari WIB itu berakhir dengan kemenangan Senegal 1-0 setelah melalui babak tambahan waktu.
Semua bermula dari sebuah keputusan kontroversial di masa injury time babak kedua. Wasit menganugerahkan penalti untuk Maroko setelah intervensi VAR, saat skor masih 0-0. Keputusan itu langsung disambut kemarahan hebat dari kubu Senegal.
Protes pun pecah. Pelatih Senegal, Pape Thiaw, bahkan memerintahkan anak asuhnya untuk meninggalkan lapangan dan masuk ke ruang ganti. Kekacauan membuat pertandingan terhenti cukup lama, sekitar 16 menit. Suasana makin mencekam.
Namun begitu, kapten Senegal Sadio Mane turun tangan. Dengan kepala dingin, dia membujuk rekan-rekannya untuk kembali ke lapangan. "Kita harus menyelesaikan ini dengan cara yang benar," kira-kira begitu pesannya. Akhirnya, para pemain Senegal keluar dari terowongan dan pertandingan dilanjutkan.
Beban berat kini ada di pundak Brahim Diaz. Dia yang maju sebagai eksekutor. Kiper Senegal, Edouard Mendy, terlihat sengaja mengulur waktu, mendekati Diaz dan berbisik sesuatu. Taktik psikologis klasik. Ketegangan di udara begitu terasa.
Lalu, di menit ke-24 injury time, Diaz melangkah. Alih-alih menendang keras, dia memilih chip ball ala Panenka. Bola melambung lemah, terlalu mudah bagi Mendy yang hanya perlu berdiri dan menangkapnya. Stadion yang sebelumnya hening mendadak gemuruh. Bukan sorak kemenangan, tapi erangan kecewa yang memilukan.
Artikel Terkait
Persib Siapkan Kejutan: Bek Eks PSG Kurzawa Didekati untuk Perkuat Maung Bandung
Persebaya Kehilangan Bek Senior, Persaingan di Lini Belakang Makin Sengit
De Jong Ledek Wasit: Sikapmu Seolah Makhluk Superior!
Bernardo Tavares Siapkan Bom Waktu untuk Skuat Asing Persebaya