Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir di Karawang, Jawa Barat, hari ini. Agenda utamanya? Menghadiri langsung panen raya sekaligus mengumumkan sebuah pencapaian penting: swasembada beras. Kabar ini datang dari Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi.
Prasetyo baru saja mengikuti retreat di kediaman Presiden di Hambalang, Bogor. Menurutnya, acara besok bukan sekadar seremoni biasa. "Agendanya sebenarnya adalah besok itu semacam penegasan," ujarnya, "bahwa kita telah berhasil dalam satu tahun ini mencapai swasembada beras."
Momen panen raya ini, bagi pemerintah, punya makna ganda. Selain jadi simbol keberhasilan, ia juga diharapkan menjadi pelecut semangat untuk mempertahankan capaian itu. "Harapan kita bisa kita pertahankan, bisa kita tingkatkan," tambah Prasetyo.
Memang, Indonesia disebutkan sudah berhasil stop impor beras pada akhir 2025. Tapi, jangan dikira perjuangan di sektor pangan sudah usai. Menurut Prasetyo, targetnya lebih besar dari sekadar beras. "Kita baru bisa berhasil swasembada karbohidrat dalam hal ini beras," katanya. "Belum swasembada pangan."
Nah, dalam retreat tadi, Presiden Prabowo konon memberi arahan langsung. Fokusnya sekarang adalah mendorong swasembada untuk komoditas lain. Jagung, bawang, dan sumber protein seperti ikan serta telur masuk dalam daftar prioritas.
Prasetyo menyebut salah satu penekanan presiden adalah pada Kementerian Kelautan dan Perikanan. "Untuk sesegera mungkin melakukan percepatan terhadap pembangunan kampung-kampung nelayan," jelasnya. Rencana konkretnya? Membangun sekitar 1.582 kapal tangkap ikan.
Lalu, kenapa semua ini begitu mendesak? Jawabannya ternyata berkait erat dengan program andalan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG). Bayangkan saja skalanya. Prasetyo memberi contoh nyata yang cukup mencengangkan.
"Kalau satu hari saja menunya adalah telur, maka dibutuhkan 82 juta butir telur satu hari," ujarnya.
Angkanya jadi semakin besar untuk kebutuhan ayam. "Hampir mencapai 890 juta, 800 juta ekor ayam yang kita butuhkan untuk memenuhi semua protein, itu hanya dari kebutuhan MBG," papar Prasetyo. Jadi, swasembada pangan bukan cita-cita lagi, tapi sebuah keharusan. Agar program seperti MBG bisa berjalan lancar tanpa bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Artikel Terkait
AS Yakinkan Mitra Dagang Soal Keberlanjutan Kesepakatan Meski Tarif Baru Berlaku
Defisit APBN Januari 2026 Capai Rp54,6 Triliun, Menkeu: Masih Terkendali
Ekonom INDEF Soroti Potensi Kerugian Rp 4 Triliun dan Waktu Balik Modal Proyek Whoosh Capai 100 Tahun
Menkeu Purbaya Sindir Viral Alumni LPDP: 20 Tahun Lagi Akan Nyese!