Investasi global di sektor batu bara diproyeksikan mencapai angka fantastis sebesar 180 miliar dolar AS, atau setara dengan sekitar Rp3.200 triliun, pada tahun ini. Lonjakan tersebut menandai rekor tertinggi sejak 2012, dengan pertumbuhan empat persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan terbarunya mengungkapkan bahwa aliran modal di seluruh sektor energi diperkirakan tumbuh menjadi 3,4 triliun dolar AS pada 2026, meningkat lima persen dari 2025. Kondisi ini tidak terlepas dari konflik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasokan minyak dan gas bumi, sehingga mendorong investor beralih ke sumber energi domestik.
“Banyak pemerintah sedang membentuk kembali kebijakan energi mereka dan sebagai hasilnya, keputusan investasi sedang dikalibrasi atau dialihkan,” ujar Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, dalam pernyataan yang dikutip pada Sabtu (30/5/2026).
Meskipun investasi bahan bakar fosil menembus rekor tertinggi, laporan tersebut mencatat bahwa sumber energi rendah karbon dan infrastruktur terkait justru akan menerima porsi modal yang lebih besar secara keseluruhan. Sekitar 2,2 triliun dolar AS diperkirakan akan dialokasikan untuk energi terbarukan, nuklir, jaringan listrik, penyimpanan energi, bahan bakar rendah emisi, efisiensi, dan elektrifikasi. Sementara itu, sebanyak 1,2 triliun dolar AS akan mengalir ke sektor minyak, gas alam, dan batu bara.
Saat ini, investasi tahunan dalam proyek energi terbarukan di seluruh dunia mencapai sekitar 665 miliar dolar AS, dengan proyek tenaga surya menyerap 365 miliar dolar AS di antaranya. Di sisi lain, negara-negara ekonomi Asia menjadi motor utama investasi batu bara. China menyumbang 70 persen dari total pengeluaran pasokan batu bara global, disusul India yang investasinya melonjak tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir.
Barat pun tak ketinggalan. Australia menggelontorkan 4,5 miliar dolar AS untuk batu bara kokas jenis batu bara yang digunakan dalam pembuatan baja pada 2026, hanya kalah dari China. Sementara itu, Amerika Serikat dan Kanada telah menyederhanakan proses persetujuan tambang batu bara mereka untuk mempercepat realisasi proyek.
Artikel Terkait
Arus Peti Kemas Pelindo Tembus 6,42 Juta TEUs hingga April 2026, Didorong Ekspor-Impor
Ekspor Minyak Mentah AS Tembus Rekor Tertinggi di Tengah Gangguan Pasokan Timur Tengah
Siti Annisafa Oceania Raih Wisudawan Terbaik UPI Berkat Konsistensi Belajar 10 Menit Sehari
CEO Nio: Pasar Otomotif China Telah Lewati Masa Keemasan, Fokus Tetap di Dalam Negeri