Cedera Gagalkan Mimpi Sabar/Reza di Semifinal World Tour Finals

- Minggu, 21 Desember 2025 | 16:15 WIB
Cedera Gagalkan Mimpi Sabar/Reza di Semifinal World Tour Finals

HANGZHOU – Perjuangan Sabar Karyaman Gutama dan Moh Reza Pahlevi Isfahani di semifinal BWF World Tour Finals 2025 berakhir dengan pilu. Cedera pergelangan kaki yang dialami Reza menjadi faktor kunci dalam kekalahan mereka dari pasangan Korea Selatan, Kim Won Ho/Seo Seung Jae, yang notabene adalah peringkat satu dunia.

Mereka kalah dua gim langsung, 9-21 dan 11-21. Padahal, Sabar/Reza adalah satu-satunya harapan Indonesia yang tersisa di turnamen elite penutup musim ini. Sayangnya, mimpi itu kandas lebih cepat dari yang diharapkan.

Meski begitu, ada kebanggaan tersendiri. Bisa melangkah hingga semifinal bukanlah pencapaian biasa, apalagi bagi pasangan yang bukan berasal dari Pelatnas PBSI.

“Pertama-tama tentu kami bersyukur terlebih dahulu bisa bertanding sampai ke babak semifinal,” kata Sabar.

Namun begitu, ia mengakui kondisi rekannya tidak ideal. “Kemudian yang kedua, memang ada sedikit kendala pada kondisi Reza, khususnya di kaki kiri bagian pergelangan. Hal itu membuat Reza tidak bisa bermain dengan terlalu leluasa hari ini. Meski begitu, kami tetap berusaha memberikan yang terbaik di pertandingan tadi,” lanjutnya.

Rupanya, masalah itu sudah mengintai sejak hari sebelumnya. Menurut Reza, rasa sakit mulai terasa saat pertandingan fase grup melawan Chiu Hsiang Chieh/Wang Chi Lin.

“Kalau yang saya rasakan, sebenarnya cedera ini sudah muncul sejak pertandingan melawan Chiu Hsiang Chieh/Wang Chi Lin kemarin, tepatnya di gim kedua sekitar poin 11 atau 12 kalau tidak salah, saat posisi saya berada di depan. Jadi sebenarnya dari kemarin kondisinya sudah terasa sakit,” ujar Reza.

Ia memaksakan diri demi tiket semifinal. Tapi di laga penentuan, kondisinya justru memburuk.

“Karena ingin all out untuk bisa menuju semifinal, kemarin masih saya paksakan dan rasa sakitnya belum separah hari ini. Sebenarnya sudah ada terapi tetapi mungkin itu belum cukup,” tuturnya.

Akibatnya, pergerakan di lapangan sangat terhambat. “Di pertandingan tadi pun, untuk melangkah saja masih terasa sangat sakit jadi memang cukup mengganggu dan saya jadi tidak bisa bermain dengan leluasa,” tambah Reza.

Menutup musim 2025, Sabar memilih melihat sisi positif. Perjalanan mereka memang naik turun, dinamis, tapi penuh pelajaran.

“Alhamdulillah kami bisa menutup rangkaian turnamen sepanjang tahun 2025 ini dengan cukup baik. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Memang perjalanan kami di tahun ini sangat dinamis, naik turun, tapi kami sangat bersyukur bisa melewatinya,” katanya.

Ia berharap semua itu jadi bekal. “Mudah-mudahan semua pembelajaran berharga di tahun ini bisa menjadi bekal yang baik untuk menghadapi tahun 2026 nanti.”

Tahun depan, tantangan dipastikan lebih berat. Persaingan akan semakin ketat dengan munculnya bakat-bakat muda.

“Ke depan, tentunya kami harus terus waspada. Karena di tahun 2026 nanti pasti akan banyak pemain-pemain muda yang bermunculan di level atas. Semoga kami bisa terus menjaga performa, tetap konsisten, dan hari demi hari bisa menjadi lebih baik dari segala aspek,” pungkas Sabar menutup pembicaraan.

Gagal maju, ya. Tapi mereka pulang dengan kepala tegak, setelah bertarung habis-habisan meski dibayangi rasa sakit.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar