Ia lalu menjabarkan salah satu faktornya: kesiapan tuan rumah. "Tuan rumah sangat siap karena telah berlatih di venue selama berbulan-bulan sehingga sangat memahami karakter lapangan."
Tak hanya itu. Aang juga menyoroti tekanan unik dari ajang seperti SEA Games. "Tekanan multievent sangat berbeda dengan single event. Keriuhan dan euforianya membuat atlet merasakan beban besar untuk tampil maksimal demi bangsa dan negara. Baru pada hari kedua mereka mulai menemukan ketenangan dalam bermain," paparnya panjang lebar.
Secara rinci, empat medali perak Indonesia datang dari nomor mens team fairway, womens team fairway, mens team stroke, dan womens team stroke. Ditambah dua perunggu tadi, lengkaplah catatan mereka di Thailand.
Namun begitu, Aang menutup pernyataannya dengan permintaan maaf dan tekad evaluasi. "Saya pribadi meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Kami harus melakukan evaluasi dan perbaikan. Dalam olahraga pasti ada menang dan kalah, tetapi tanpa evaluasi yang baik kita akan terus terpuruk."
Jadi, itulah kisah dari arena woodball SEA Games. Ada kebanggaan, kelegaan, tapi juga pengakuan akan kerja keras yang masih panjang di depan mata.
Artikel Terkait
Malik Risaldi dan Jejak Sananta yang Mulai Terlihat di Surabaya
Ragnar Oratmangoen: Pintu Transfer ke Persebaya Mulai Terbuka?
Duel Sengit Indonesia di Semifinal Thailand Masters, Tiga Tiket Final Sudah Di Kantong
Babak Play-Off Liga Champions: Jalan Berduri Menuju 16 Besar