Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, secara resmi meresmikan UMKM Batik Windasari di Sragen, menegaskan bahwa industri batik bukan hanya sektor kreatif, melainkan juga sumber penghidupan bagi ribuan warga di Sragen dan sekitarnya. Peresmian ini menjadi momen bersejarah bagi pengembangan ekonomi kreatif Jawa Tengah.
Dalam sambutannya, Luthfi menyatakan kebanggaannya dan menekankan bahwa batik adalah warisan leluhur yang harus dilestarikan. Ia memuji langkah pemilik Batik Windasari, Wiwin, yang mengumpulkan para perajin dalam satu lokasi produksi, sebuah model yang dinilai efektif untuk menjaga budaya sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
Luthfi menilai usaha seperti Batik Windasari sebagai bukti ketahanan ekonomi rakyat berbasis budaya. Ia berharap sektor batik terus diperkuat dengan dukungan akses permodalan, pelatihan, dan promosi. Optimisme tinggi disampaikannya bahwa Jawa Tengah berpotensi menjadi pusat ekonomi kreatif berbasis batik.
Strategi pemasaran dan promosi batik menjadi sorotan utama Gubernur. Ia mendorong agar event khusus batik lebih sering digelar untuk memperluas akses pasar dan memperkuat posisi UMKM batik Jawa Tengah dalam rantai ekonomi kreatif. "Saya minta, sering-seringlah mengadakan event terkait dengan UMKM batik," tegasnya.
Dijelaskannya, 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah memiliki karakteristik batik yang beragam dengan daya tarik masing-masing. Dengan fasilitasi yang baik, sektor UMKM batik dapat menjadi pengungkit ekonomi dan memperkuat identitas daerah.
Wiwin, pemilik Batik Windasari, menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah terhadap pelestarian batik tulis Sragen. Sentra batik ini menampung puluhan perajin dari berbagai desa dan menjadi bagian penting dari rantai ekonomi lokal, khususnya dalam menyerap tenaga kerja perempuan pedesaan.
Kisah perajin seperti Waginem (58), yang telah membatik selama tiga dekade, menggarisbawahi realita mata pencaharian ini. Penghasilannya tidak menentu, bergantung pada pesanan, dengan upah harian sekitar Rp40 ribu. Harapannya, membatik dapat dilanjutkan oleh generasi penerus. Sementara itu, perajin lain, Siti Rohani, menyoroti sistem kerja di Batik Windasari yang menawarkan pilihan upah borongan atau harian.
Artikel Terkait
Permenaker Baru soal Outsourcing Tuai Pro dan Kontra, Anggota DPR Akui Pengawasan Masih Titik Lemah
Gangguan Listrik Akibat Sambaran Petir, Ratusan Penumpang KRL Tanah Abang–Rangkasbitung Terjebak di Gerbong Pengap
Harga Minyak Fluktuatif di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran, Brent Turun Tipis Usai Reli Tajam
Kementerian Kebudayaan Luncurkan Lomba Video Aku dan Budayaku untuk Dorong Generasi Muda Jadi Kreator Konten Budaya