"Saya menginstruksikan dalam rapat kabinet untuk memulai negosiasi langsung dengan Lebanon," jelas Netanyahu.
Ada dua target besar yang ingin dicapainya. Pertama, tentu saja, melucuti senjata Hizbullah. Yang kedua, lebih ambisius: merajut perjanjian damai yang bersejarah dan berkelanjutan antara kedua negara yang secara teknis masih berperang itu.
Netanyahu tampaknya percaya diri. Ia merasa posisi Israel sekarang kuat, sementara pengaruh Iran, pendukung utama Hizbullah, dianggapnya sedang melemah. "Hal itu juga telah menyebabkan perubahan dalam hubungan kami dengan negara-negara yang sebelumnya tidak ada," tuturnya, tanpa merinci lebih jauh.
Bagaimana respons Lebanon? Otoritas setempat memang belum angkat bicara secara resmi. Tapi menurut sejumlah sumber yang dekat dengan proses ini, diplomasi sudah di depan mata. Negosiasi langsung antara kedua pihak dijadwalkan bakal dimulai minggu depan. Tempatnya? Departemen Luar Negeri Amerika Serikat di Washington. AS, sekali lagi, menjadi tuan rumah untuk pembicaraan yang rumit ini.
Artikel Terkait
Polisi Banten Bantu Evakuasi Anak Kejang ke Rumah Sakit
BMKG Prakirakan Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Jakarta Pagi Ini
Serangan Energi Guncang Pasar Minyak, Indonesia Incar Pasokan Alternatif dari Rusia
Yusril Tegaskan Kasus Air Keras Aktivis KontraS Tetap di Pengadilan Militer