Serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi jadi sorotan utama sepanjang Jumat kemarin. Gangguan ini bukan cuma urusan regional, tapi langsung mengguncang pasar minyak global. Di sisi lain, ada kabar lain yang tak kalah panas: Prabowo Subianto bersiap untuk duduk bersama Vladimir Putin di Moskow. Pertemuan itu konon bakal membahas kerja sama energi, termasuk kemungkinan impor minyak dari Rusia.
Operasional Energi Saudi Terganggu, Pasar Minyak Bergejolak
Serangan yang menyasar sejumlah titik vital di Arab Saudi mulai dari Riyadh, Provinsi Timur, hingga Kota Industri Yanbu berdampak nyata. Operasional di sektor hulu ke hilang terganggu: produksi minyak dan gas, transportasi, pengilangan, sampai pembangkit listrik. Yang paling dikhawatirkan tentu imbasnya ke pasokan global. Dalam kondisi persediaan minyak operasional yang sudah tipis, insiden ini ibarat tamparan bagi pemulihan ekonomi dunia. Volatilitas harga pun tak terhindarkan.
Rincian kerugiannya cukup signifikan. Satu stasiun pompa di pipa East-West Pipeline rusak, bikin hilang sekitar 700 ribu barel minyak per hari. Belum lagi fasilitas produksi di Manifa dan Khurais, masing-masing kehilangan output sekitar 300 ribu barel. Kalau dijumlah, total penurunan kapasitas produksi Saudi mencapai 600 ribu barel per hari. Angka yang besar.
Namun begitu, dampaknya bukan cuma material. Serangan ini juga menelan korban jiwa. Satu personel keamanan industri tewas, sementara tujuh rekannya dari perusahaan energi nasional terluka. Situasi yang mencemaskan.
Prabowo Siap Ketemu Putin, Minyak Rusia Jadi Bahan Omongan
Lalu ada kabar dari jalur diplomasi. Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dikonfirmasi bakal segera digelar. Agendanya jelas: energi.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut, kerja sama yang sudah jalan seperti proyek kilang Tuban antara Rosneft dan Pertamina bakal dibahas lagi. Itu skema bisnis ke bisnis. Tapi yang lebih menarik perhatian adalah wacana pembelian minyak mentah langsung dari Rusia.
Opsi ini bukan hal baru. Bahlil pernah menyinggung soal mengganti sekitar 20 persen pasokan yang biasa lewat Selat Hormuz dengan minyak Rusia. Langkah diversifikasi, katanya. Meski impor dari AS sudah mulai berjalan, Rusia tetap membuka peluang.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menegaskan kesiapan negaranya.
"Kami siap memasok minyak dan gas ke negara mitra, bahkan yang tidak bersahabat sekalipun. Syaratnya sederhana: ada permintaan resmi dan komitmen untuk kerja sama jangka panjang," ujarnya.
Jadi, dua berita besar ini saling berkait. Satu sisi, pasokan dari Timur Tengah terganggu. Di sisi lain, Indonesia mengincar sumber alternatif dari Utara. Dinamika pasar energi global memang tak pernah sepi kejutan.
Artikel Terkait
DPR Soroti Dugaan Pemalsuan Riset WNI di Konferensi Internasional Denmark, Kemendiktisaintek Lakukan Pendalaman
Bobby/Melati Tumbang di Singapore Open 2026 Usai Dua Kesalahan Krusial di Momen Kritis
Fadli Zon: Iduladha Momen Perkuat Solidaritas Sosial dan Kepedulian Sesama
Pengamat: Pemadaman Listrik Sumatra Bukan Hanya Terjadi di Indonesia, Perlu Penguatan Sistem