Dia lantas memaparkan fokus sebenarnya dari kesepakatan. "Yang kami perjuangkan adalah gencatan senjata yang berpusat pada Iran, dan tentunya melindungi sekutu-sekutu Amerika baik Israel maupun negara-negara Arab di kawasan Teluk," jelas Vance.
Di sisi lain, realitas di lapangan justru menunjukkan eskalasi. Israel, misalnya, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan operasi militernya di Lebanon. Malah, gelombang serangan terbesar mereka justru dilancarkan pada Rabu (8/4) lalu, sejak konflik ini pertama kali berkecamuk.
Vance juga memberikan peringatan keras. Negosiasi yang alot antara AS dan Iran ini bisa saja buyar sama sekali.
"Kalau Iran bersikeras memasukkan Lebanon yang sebenarnya bukan urusan mereka dan mau mengambil risiko kegagalan perundingan, ya itu hak prerogatif mereka," kata Vance, dengan nada yang terkesap kesal.
Jadi, ancaman batalnya perjanjian itu nyata, jika Teheran terus bersikukuh dengan tuntutannya.
Artikel Terkait
BNPP Soroti Peran Strategis Dai dalam Pembangunan Kawasan Perbatasan
Hizbullah Tolak Rencana Israel untuk Negosiasi Langsung dengan Lebanon
Megawati Terima Kunjungan Dubes Saudi, Bahas Hadiah Anggrek hingga Gelar Doktor Kehormatan
Pekerja Pabrik VKTR Apresiasi Kebijakan Percepatan Elektrifikasi Prabowo