Rusia, AS, dan Tiongkok Pimpin Perlombaan Teknologi Rudal Balistik Antarbenua

- Kamis, 09 April 2026 | 16:45 WIB
Rusia, AS, dan Tiongkok Pimpin Perlombaan Teknologi Rudal Balistik Antarbenua

Di panggung persenjataan global, ada satu jenis senjata yang selalu jadi ukuran kekuatan: rudal balistik antarbenua, atau ICBM. Bayangkan saja, rudal-rudal ini bisa melintasi samudera dan benua, menghantam target ribuan kilometer jauhnya dengan kecepatan yang sulit dibayangkan. Itulah mengapa negara-negara besar terus berinvestasi besar-besaran di sini. Teknologinya berkembang pesat, dan persaingannya makin ketat.

Nah, bicara soal yang tercanggih, beberapa nama kerap muncul dalam laporan intelijen dan analisis militer. Mereka bukan hanya soal jarak tempuh, tapi juga kecerdikan untuk menghindari pertahanan musuh.

RS-28 Sarmat (Rusia): Sang "Setan" Baru

Rusia punya RS-28 Sarmat, yang dijuluki "Satan II" oleh NATO. Monster ini sanggup terbang sejauh 18.000 km dan membawa 15 hulu ledak sekaligus. Yang bikin ngeri, rudal ini dikabarkan bisa mengambil jalur melalui orbit trik yang dirancang khusus untuk mengakali sistem pertahanan anti-rudal.

DF-41 (Tiongkok): Hantu yang Bergerak

Dari Tiongkok, ada DF-41. Keunggulan utamanya? Mobilitas. Rudal ini diangkut truk peluncur bergerak, sehingga bisa berpindah-pindah dan sangat sulit dilacak posisinya sebelum diluncurkan. Dengan kemampuan membawa sepuluh hulu ledak, ia adalah ancaman yang sangat fleksibel.

LGM-35 Sentinel (AS): Penerus Legenda

Amerika Serikat tak mau ketinggalan. Mereka sedang mengembangkan LGM-35 Sentinel untuk menggantikan rudal Minuteman III yang sudah tua. Sentinel dijanjikan punya presisi lebih tinggi dan sistem keamanan yang lebih mutakhir, menjadi tulang punggung baru arsenal nuklir AS.

Trident II D5 (AS & Inggris): Senjata dari Kedalaman

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar