Rano Karno Siap Pindah Kantor ke Kota Tua untuk Awasi Revitalisasi

- Kamis, 09 April 2026 | 19:30 WIB
Rano Karno Siap Pindah Kantor ke Kota Tua untuk Awasi Revitalisasi

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, benar-benar serius menangani proyek revitalisasi Kota Tua. Dia bahkan punya rencana yang cukup personal: ingin pindah kantor ke sana. Tujuannya jelas, agar bisa mengawasi setiap perkembangan pembangunan dari dekat, tanpa ada yang terlewat.

"Insyaallah di saat waktunya tepat, saya sendiri sebagai penanggung jawab akan berkantor di Kota Tua,"

ujar Rano di Balai Kota Jakarta, Kamin (9/4/2026).

Rencana itu akan berjalan sambil menunggu pembentukan Badan Pengelola khusus, mirip dengan yang sukses di Kota Lama Semarang. Sementara badan itu belum ada, tim revitalisasi yang sudah dibentuk akan lebih dulu menempati lokasi. Dengan begitu, mereka bisa merasakan langsung apa yang dibutuhkan dan memantau kemajuan pekerjaan setiap hari.

Lalu, bagaimana bentuk penataan kawasan bersejarah ini? Rano membeberkan, Kota Tua nantinya akan dibagi jadi tiga zona. Ada zona inti, zona pengembangan, dan zona penunjang. Fokus awal akan tertuju pada zona inti yang luasnya sekitar 80 hektare.

"Zona inti ini termasuk Museum Bahari dan kawasan Alun-alun Fatahillah. Yang pertama kita bangun adalah area parkir dan fasilitas PKL agar tertata, tapi tetap mendukung kehidupan masyarakat,"

jelasnya.

Untuk mewujudkannya, Pemprov DKI tidak bekerja sendirian. Mereka melibatkan konsorsium dan sejumlah ahli. Salah satunya adalah Prof Andi, pakar yang terlibat dalam penataan Kota Lama Semarang. Tugasnya adalah menyelaraskan tiga masterplan yang sudah ada dari Citata, MRT, dan Pembangunan Jaya menjadi satu peta jalan yang komprehensif dan bisa langsung dijalankan.

Di sisi lain, ada juga wacana menarik yang sedang dikaji: pembangunan trem. Menurut Rano, trem bukan cuma soal transportasi. Ia bisa menjadi solusi untuk menekan emisi di kawasan itu, sekaligus menghidupkan kembali nuansa Jakarta tempo dulu.

"Dulu saya masih kecil sempat naik trem dari Pasar Baru ke Kota Tua. Trem bisa jadi solusi mengurangi emisi,"

kenangnya.

Perlu diingat, ruang lingkup revitalisasi ini jauh lebih luas dari sekadar Alun-alun Fatahillah. Koridor Harmoni dan akses-akses di sekitarnya juga masuk dalam skema pembenahan. Termasuk di dalamnya adalah sungai dan jalur pejalan kaki yang kondisinya masih memprihatinkan.

"Itu semua bagian dari pembangunan Kota Tua. Kita akan lihat apa yang harus didahulukan,"

imbuh Rano. Tampaknya, pekerjaan rumah untuk menghidupkan kembali jantung sejarah Jakarta ini masih panjang, namun langkah awalnya sudah mulai terlihat.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar