Layanan kesehatan di provinsi-provinsi yang dilanda banjir bandang Sumatera perlahan mulai bangkit. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melaporkan, pemulihan berjalan setelah serangkaian penanganan intensif di lapangan.
Semuanya bergerak cepat sejak perintah presiden turun. Begitu bencana terjadi, saya diperintahkan Presiden untuk memastikan layanan kesehatan segera pulih. Rumah sakit menjadi prioritas karena menyangkut penyelamatan nyawa,” kata Budi dalam siaran pers BNPB, Rabu (7/1/2026).
Fokus pertama memang pada rumah sakit. Dari 87 rumah sakit yang terdampak, situasinya cukup parah: sembilan di antaranya sempat berhenti total. Banjir dan kerusakan berat membuat operasional mereka lumpuh.
Namun begitu, dengan membentuk Health Emergency Operation Center (HEOC) dan dukungan dari berbagai sektor, kondisi berbalik dalam dua minggu. Semua rumah sakit itu akhirnya bisa kembali beroperasi, meski belum sepenuhnya normal.
“Dalam dua minggu, seluruh 87 rumah sakit sudah bisa melayani pasien kembali. Ada yang belum 100 persen karena masih lumpur atau alat rusak, tapi pelayanan dasar sudah berjalan,” ujar Budi.
Setelah rumah sakit, giliran Puskesmas yang jadi sasaran pemulihan di pekan ketiga Desember. Angkanya lebih besar: dari 867 Puskesmas terdampak, 152 sempat tutup karena terendam parah.
Kemajuan signifikan terlihat. Hingga awal Januari 2026, cuma tersisa tiga Puskesmas di Aceh yang belum berfungsi. Dua di antaranya, sayangnya, harus dibangun ulang karena rusak total.
“Puskesmas ini krusial karena melayani warga di sekitar dan pengungsi. Target kami, masyarakat tidak perlu ke rumah sakit jika bisa ditangani di Puskesmas,” jelasnya.
Di sisi lain, penanganan di titik pengungsian juga tak boleh terlupakan. Untuk menjaga layanan di sekitar 1.000 lokasi pengungsian, Kemenkes mengerahkan sekitar 4.000 relawan kesehatan. Mereka berasal dari mana-mana: TNI-Polri, rumah sakit pemerintah, kampus, organisasi profesi, sampai lembaga kemanusiaan.
Mereka bekerja bergiliran, setiap periode sekitar 700–900 orang, dengan rotasi setiap dua hingga tiga minggu.
Memasuki awal Januari, upaya pemulihan masuk tahap ketiga yang lebih menyeluruh. Fokusnya sekarang pada perbaikan alat kesehatan, ambulans, dan fasilitas pendukung lain yang rusak. Ratusan ambulans sudah ditangani berkat kolaborasi dengan pihak swasta dan teknisi lapangan. Laboratorium Puskesmas, termasuk yang untuk pemeriksaan TBC, juga mulai diperbaiki atau diganti.
Kemenkes pun melibatkan donatur untuk pengadaan alat-alat baru. Budi menegaskan satu hal: penanganan seperti ini mustahil dilakukan sendirian.
“Belajar dari COVID, masalah kesehatan harus dikerjakan bersama. Modal sosial masyarakat Indonesia sangat tinggi, tugas kami adalah mengoordinasi dan memfasilitasi,” ucapnya.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor dan solidaritas masyarakat yang tinggi itulah kunci percepatan pemulihan saat ini.
Dengan kondisi rumah sakit dan Puskesmas yang hampir pulih, harapannya jelas. Layanan kesehatan di wilayah terdampak bencana Sumatera diharapkan semakin stabil, siap mendukung proses pemulihan masyarakat untuk jangka menengah ke depan.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Aturan Sertifikasi Halal untuk Produk AS Tetap Berlaku
Agrinas Impor 105.000 Kendaraan Niaga dari India untuk Dukung Kopdes Merah Putih
Jadwal Imsak Tangerang Raya Seragam Pukul 04.33 WIB pada 23 Februari 2026
Lebaran 2026: Tiket Kereta Jarak Jauh di Jawa Dominasi Pemesanan, Rute Gambir-Yogyakata Paling Laris