Iran sendiri sudah mengajukan sejumlah syarat. Mereka mengusulkan tetap memegang kendali atas Selat Hormuz, yang sebenarnya wajar-wajar saja dan bisa jadi bahan negosiasi. Poin lain yang mereka desak adalah hak untuk melanjutkan program pengayaan uranium.
Menurut Iran, kemauan mereka ini sejalan dengan kebijakan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Tapi tentu, ini akan jadi salah satu titik paling alot dalam perundingan nanti.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) menyatakan perundingan di Islamabad akan berlangsung maksimal 15 hari. Tujuannya memfinalisasi 10 butir syarat gencatan senjata yang diajukan kepada AS dan Israel. Harapannya sih, perdamaian yang dihasilkan nanti permanen, bukan cuma gencatan semu yang mudah pecah lagi.
“Kami sudah tiga kali berunding, tapi hasilnya selalu sama: pengkhianatan dari pihak AS,” begitu kira-kira keluh salah satu pihak di Iran. Ungkapan itu menggambarkan betapa tingkat kepercayaan antara kedua negara ini benar-benar berada di titik nadir.
Sambil menunggu hasil perundingan, Indonesia harus jeli mengambil pelajaran. Lihatlah bagaimana satu titik sempit di Timur Tengah bisa menggoyang ketahanan energi kita. Ini jadi alarm keras.
Pengelola negara harus betul-betul memperhatikan soal stok minyak dan gas nasional yang ternyata sangat terbatas. Peta jalan bauran energi dan pengembangan energi baru terbarukan yang sudah ada, harus dijalankan dengan komitmen penuh, bukan sekadar wacana.
Kita harus siap. Turbulensi seperti ini bisa datang kapan saja. Di dunia yang serba tak pasti ini, satu-satunya kepastian adalah bahwa ketidakpastian itu sendiri akan selalu menghampiri. Persiapan adalah kuncinya.
Artikel Terkait
Presiden Iran Tegaskan: Gencatan Senjata dengan AS Bergantung pada Penghentian Serangan Israel ke Lebanon
Pemulihan Pasca Bencana Aceh Capai 91 Persen, Fokus Beralih ke Pemulihan Sosial-Ekonomi
Dua Penumpang Lompat dari Angkot Usai Dibegal di Medan, Satu Kritis
Korban Penyiraman Air Keras dari KontraS Desak Pengadilan Umum untuk Pelaku dari BAIS TNI