Ancaman Trump sendiri datang dengan tenggat waktu ketat. Dia memberi ultimatum hingga Selasa malam waktu AS, atau Rabu dini hari waktu Iran, agar Tehran menyetujui gencatan senjata. Tuntutannya jelas: Iran harus melepaskan senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz yang kini ditutup akibat serangan AS sebelumnya. Jika tidak, serangan besar-besaran terhadap pembangkit listrik dan jembatan-jembatan penting akan dilancarkan.
Namun begitu, tenggat waktu itu justru ditanggapi dengan cemoohan oleh sejumlah pejabat Iran. Di sisi lain, laporan dari BBC menyebutkan warga mulai bersiap. Suasana tegang, tapi ada upaya untuk menunjukkan ketegaran.
Ritme ancaman dan respons ini memunculkan gambaran yang kontras. Satu sisi, ancaman militer yang dingin dari Gedung Putih. Di sisi lain, sebuah negeri memobilisasi anak mudanya untuk berbaris secara damai, berharap kekuatan simbolis dapat menjadi jawaban. Bagaimana kelanjutannya? Semua mata tertuju pada hitungan jam menuju tenggat waktu itu.
Artikel Terkait
Kecelakaan Lalu Lintas di Pangkalpinang Didominasi Faktor Kelalaian Pengemudi
Rusia dan China Veto Resolusi PBB untuk Buka Kembali Selat Hormuz
Enam Perusahaan Siap Bayar Ganti Rugi Rp4,8 Triliun Atas Banjir dan Longsor Sumatra
Min Aung Hlaing Resmi Jadi Presiden, Transisi Kuasa Junta Myanmar Dikritik