Upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz menemui jalan buntu di Dewan Keamanan PBB. Rusia dan China, dengan tegas, memveto rancangan resolusi yang diajukan untuk itu. Penutupan selat ini sendiri adalah respons Iran setelah wilayahnya diserang oleh Amerika Serikat dan Israel.
Pemungutan suara yang dilaporkan Associated Press dan Al-Jazeera pada Selasa (7/4/2026) itu berakhir dengan hasil yang cukup jelas: sebelas negara mendukung, dua menentang yakni Rusia dan China dan dua lainnya memilih abstain.
Menurut sejumlah saksi, suasana di DK PBB saat itu sangat mencekam. Pemungutan suara digelar hanya beberapa jam sebelum batas waktu ultimatum Presiden AS Donald Trump habis. Trump memberi tenggat hingga pukul 8 malam waktu Timur bagi Iran untuk membuka selat itu. Jika tidak, ancamannya adalah serangan terhadap infrastruktur penting Iran, seperti pembangkit listrik dan jembatan.
Ancaman ini bukan main-main. Selat Hormuz adalah urat nadi energi global; seperlima pasokan minyak dunia melintas di sana. Sejak Iran menutupnya di tengah peperangan, harga energi langsung melambung tinggi dan membuat pasar dunia gemetar.
Di sisi lain, rancangan resolusi ini digagas oleh Bahrain dan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab ditambah Yordania. Intinya, mereka ingin mengamankan jalur pelayaran dan navigasi di perairan strategis tersebut.
Padahal, Selat Hormuz sebelumnya terbuka untuk semua. Penutupan terjadi, ya, gara-gara serangan AS dan Israel itu.
Trump sendiri sudah minta bantuan negara lain untuk membuka paksa selat tersebut. Tapi ditolak. Dia pun tak segan mengancam akan "menghancurkan Iran" jika mereka tetap bersikukuh.
Namun begitu, Iran tampaknya tidak gentar. Posisi mereka jelas: Selat Hormuz baru akan dibuka jika mereka mendapat ganti rugi atas segala kerusakan di dalam negeri. Perang yang dimulai AS dan Israel sejak 28 Februari 2026 itu, kata mereka, harus dipertanggungjawabkan.
Jadi, beginilah situasinya sekarang. Veto dari dua kekuatan besar itu bukan hanya sekadar suara di PBB. Itu adalah penanda bahwa krisis ini masih jauh dari kata selesai, dan dunia harus bersiap menghadapi konsekuensinya.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Disambut Upacara Kenegaraan di Les Invalides, Lanjutkan Pertemuan Bilateral dengan Macron di Istana Elysee
Esensi Ibadah Kurban: Dari Ujian Keikhlasan Habil dan Qabil hingga Perintah Syariat bagi yang Mampu
Balita Tewas dengan Belasan Luka Tusuk di Bekasi, Paman Berstatus Terduga Pelaku
ASN di PPU Ditangkap Polisi Usai Cabuli Anak Tetangga yang Masih Berusia 10 Tahun