Tanggal 3 April 2026 menandai babak baru yang kelam bagi Myanmar. Min Aung Hlaing, mantan panglima junta militer, resmi terpilih sebagai presiden. Hasil pemungutan suara di parlemen itu, bagi banyak pengamat, cuma pengesahan formal belaka. Sebuah transisi yang dirancang ketat agar tentara tetap memegang kendali.
Dengan 429 suara dari total 584, kemenangan pria 69 tahun itu hampir tak terbendung. Parlemen didominasi partai pro-militer dan anggota yang ditunjuk junta. Jadi, ya, hasilnya bisa ditebak.
Jalan Min Aung Hlaing ke kursi kepresidenan berawal dari kudeta berdarah Februari 2021. Kala itu, ia menggulingkan Aung San Suu Kyi, pemimpin sipil yang terpilih secara demokratis. Partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), memang dua kali menang telak: 2015 dan 2020. Tapi militer punya alasan sendiri. Mereka menuduh ada kecurangan besar, lalu mengambil alih kekuasaan. Keputusan itu memicu perang saudara yang hingga kini masih menyala.
Perang Sipil yang Tak Kunjung Padam
Lima tahun berlalu, Myanmar masih terbelah. Militer menguasai kota-kota besar dan institusi penting, itu betul. Tapi kendali mereka sesungguhnya kurang dari separuh wilayah negara. Daerah perbatasan dan pedesaan banyak yang jadi ajang pertempuran sengit atau malah dikuasai kelompok oposisi.
Korban berjatuhan. PBB mencatat, sejak 2021 sekitar 6.800 warga sipil tewas dan 3,6 juta orang terpaksa mengungsi. Angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar.
Nah, pemilu yang melantik Min Aung Hlaing ini pun diragukan keabsahannya. Pertempuran di berbagai daerah membuat pemungutan suara hanya bisa dilakukan di 265 dari 330 kota administratif. Banyak yang bilang, prosesnya jauh dari kata bebas dan adil.
Partai oposisi disingkirkan, kritik dikriminalisasi. Sementara Aung San Suu Kyi yang kini berusia 80 tahun, masih mendekam di penjara menjalani hukuman 27 tahun atas berbagai tuduhan, termasuk korupsi.
Partai Solidaritas dan Pembangunan Union (USDP) meraih 81% kursi. Belum lagi, konstitusi mengalokasikan 25% kursi untuk militer. Jadi, kekuasaan mereka benar-benar terkunci.
Konsolidasi Kekuasaan Sejak Kudeta
Min Aung Hlaing bukan cuma duduk manis. Sejak 2021, ia membangun berbagai mekanisme untuk mengukuhkan cengkeraman militer. Salah satunya, membentuk Dewan Konsultatif Persatuan.
Dewan beranggotakan lima orang ini disebut para analis sebagai "lembaga super". Posisinya berada di atas eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Jadi, panglima tidak benar-benar menyerahkan kekuasaan. Ia hanya mendistribusikannya ke lembaga-lembaga yang dikuasai dirinya dan sekutu.
Yoshihiro Nakanishi, profesor dari Universitas Kyoto, punya pandangan tajam. Menurutnya, transisi ini sama sekali bukan menuju pemerintahan sipil yang demokratis.
"Ini justru upaya memformalkan rezim militer," katanya. "Mereka ingin kudeta 2021 diterima sebagai kenyataan yang tak bisa diubah."
Ekonomi Terpuruk, Ditambah Krisis Bahan Bakar
Kondisi ekonomi Myanmar sudah parah akibat perang dan sanksi. Kini, dampak konflik di Timur Tengah memperburuk keadaan. Negara ini sangat bergantung impor bahan bakar olahan dari Singapura dan Malaysia. Gangguan di Selat Hormuz otomatis mendongkrak harga.
Biaya transportasi melambung, inflasi makin menggila, hidup rakyat sehari-hari jadi makin sulit. Junta sampai memberlakukan pembatasan bahan bakar untuk kendaraan pribadi.
Moe Thuzar, peneliti senior di ISEAS–Yusof Ishak Institute, melihat ini sebagai tantangan berat.
"Krisis energi jadi masalah serius bagi pemerintahan mana pun yang coba memulihkan ekonomi," ujarnya. "Apalagi di tengah perebutan kendali wilayah yang masih terjadi. Perang belum mereda, dan militer masih bertekad melancarkan operasi tempur yang mereka sebut 'anti-teroris'."
Artikel Terkait
Warga Iran Bentuk Perisai Manusia Lindungi Pembangkit Listrik dari Ancaman Trump
PPATK Dorong Penanganan Penyalahgunaan BBM Subsidi Masuk Ranah Pencucian Uang
BTN: Belum Ada Perkembangan Signifikan Soal Naturalisasi Luke Vickery
Bareskrim Bongkar Jaringan Penyalahgunaan Subsidi, Negara Rugi Rp1,26 Triliun