Semua ini berawal dari ultimatum Trump sebelumnya. Dia memberi Iran waktu 48 jam untuk membuka Selat Hormuz. Jika tidak dipatuhi, ancamnya, Washington siap ‘menghancurkan’ sejumlah pembangkit listrik Iran.
“Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam 48 JAM sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai PEMBANGKIT LISTRIK mereka, DIMULAI DARI YANG TERBESAR!” tulisnya pada 21 Maret.
Memang, selat itu ditutup Iran bukan tanpa alasan. Aksi ini adalah respons atas serangan AS dan Israel akhir Februari lalu. Penutupan ini jelas membuat Trump geram. Dia pun mendesak sekutu-sekutunya untuk ikut membantu membuka paksa selat tersebut.
Sayangnya, sejauh ini ajakannya itu sepi penerimaan. Sekutu-sekutu AS tampaknya enggan ikut campur.
Artikel Terkait
Min Aung Hlaing Resmi Jadi Presiden, Transisi Kuasa Junta Myanmar Dikritik
Polisi dan Petani Banjarbaru Garap 30 Hektare Lahan Jagung untuk Ketahanan Pangan
Tokoh Sejarah di Balik Pesawat Seulawah RI-001, Teungku Nyak Sandang, Wafat di Aceh Jaya
Polisi Selidiki Gas Mematikan di Bak Proyek Jagakarsa yang Diduga Tewaskan Empat Pekerja