Pemicu lonjakan ini, menurut analisisnya, berasal dari tiga hal. Faktor pertama adalah tingginya mobilitas penduduk saat Lebaran lalu; virus campak yang sangat menular dengan mudah berpindah dalam kerumunan. Lalu, ada masalah disparitas cakupan imunisasi yang belum merata beberapa daerah angkanya masih di bawah ambang batas kekebalan kelompok.
"Dan adanya misinformasi atau hoaks vaksin. Keraguan sebagian masyarakat terhadap keamanan vaksin akibat informasi yang salah menyebabkan penolakan imunisasi," tegasnya.
Menghadapi situasi ini, Dinkes Provinsi Banten beserta jajaran kabupaten dan kota kini menggenjot program imunisasi. Sasaran utamanya adalah balita dan anak-anak. Mereka menargetkan anak usia sembilan bulan sampai 59 bulan bisa segera mendapat vaksin campak.
Upaya ini mereka sebut sebagai Vaksin ORI Campak. "Vaksin ORI Campak (Outbreak Response Immunization) Campak adalah imunisasi massal darurat untuk menanggulangi Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah penyakit menular campak di wilayah tertentu," jelas Ati.
Ia menekankan, tujuannya untuk memutus rantai penularan secepatnya. Program ini wajib diikuti anak-anak dalam kelompok usia target, terlepas dari status imunisasi mereka sebelumnya.
Artikel Terkait
KPK Kerja Maraton Usut Dugaan Korupsi Kuota Haji 2023-2024
Kemenbud dan BPS Perkuat Basis Data Kebudayaan untuk Sensus Ekonomi 2026
Ekonom UMY Dukung Wacana Potong Gaji Menteri, Tapi Ingatkan Tak Cukup Atasi Defisit
Trian Hadapi Dilema Keluarga dan Bongkar Tuduhan ke Herlina di Ruang Tahanan