Analis Peringatkan Kualitas Kredit Perbankan Terancam Imbas Konflik Minyak

- Senin, 06 April 2026 | 16:45 WIB
Analis Peringatkan Kualitas Kredit Perbankan Terancam Imbas Konflik Minyak

"Inflasi yang sekarang ditahan, bisa naik signifikan dan ini jadi masalah serius bagi kemampuan bayar debitur," jelasnya.

Kualitas Kredit di Ujung Tanduk

Lalu, faktor apa saja yang menentukan kualitas kredit di tengah badai ini? Bhima menguraikan setidaknya tiga hal penting.

Pertama, soal karakter kredit. Ada perbedaan mencolok antara kredit yang mengandalkan program pemerintah dengan kredit murni dari permintaan swasta. Profil risikonya jelas beda.

Kedua, bank harus jeli melihat apakah sektor kredit yang terdampak bersifat siklikal atau jangka panjang. Ambil contoh krisis energi ini. Dia bisa memicu kenaikan harga komoditas seperti batu bara, sawit, atau nikel. Tapi sifatnya fluktuatif, naik-turun tak menentu.

"Bank perlu hati-hati karena siklus naiknya harga komoditas bisa rollercoaster alias berlangsung singkat," ucap Bhima.

Faktor ketiga adalah permintaan riil masyarakat. Di titik ini, kelompok kelas menengah dan aspiring middle class justru paling rentan terhimpit inflasi. Mereka terjepit.

"Yang perlu jadi perhatian adalah debitur kelas menengah yang rentan dengan tekanan inflasi. Sementara perlindungan sosial lebih banyak ke kelas bawah. Jadi kelas menengah yang lebih dulu merembet ke NPL dibanding segmen kelas bawah," paparnya.

Dampak kenaikan harga energi sudah terasa hingga ke pasar domestik AS. Data AAA mencatat, harga rata-rata bensin di sana tembus US$4,11 per galon pada Minggu lalu. Itu level tertinggi sejak 2022, atau melonjak hampir 38% sejak konflik pecah. Sebuah angka yang bikin semua pihak merinding.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar